Menimang Listrik Tenaga Surya

Republika, Rabu 20 Juni 2007

Ketergantungan pada impor mengakibatkan listrik energi surya lebih mahal.

Krisis energi menjadikan para pakar memutar otak mencarikan solusi alternatif. Setelah gagasan menciptakan pembangkit listrik tenaga nuklir mendapat sorotan dan penolakan, pakar lain mengajukan gagasan energi surya.Sebagai negara tropis, sinar matahari begitu melimpah. Ini potensi jika dikelola menjadi sumber energi alternatif. Apalagi di Indonesia yang berbentuk kepulauan. Listrik tenaga surya jelas ramah lingkungan.

Komponen yang dibutuhkan dalam PLTS terdiri atas modul surya, baterei regulator, dan konstruksi penyangga. Adapun inti dari PLTS berupa sel surya, yang terbuat dari bahan kristal silicon (Si) yang secara langsung bisa mengubah energi cahaya menjadi energi listrik. Dalam aplikasinya, sel surya dirangkai dalam modul sampai menghasilkan tegangan standar baterei sebesar 12 volt.

Pada 1997, pemerintah sebenarnya mencanangkan program ‘Listrik Tenaga Surya untuk Sejuta Rumah’. Diluncurkan Presiden Soeharto program ini diharap menghasilkan listrik 50 MWp. Ada syarat kandungan 80 persen bahan lokal dan ditargetkan pada Repelita VII seluruh desa di Indonesia sudah ‘menyala’.

Namun, PLTS terkendala belum dikuasainya teknologi fabrikasi sel surya oleh bangsa sendiri.

Indonesia punya beberapa perakitan sistem PLTS dengan modul surya impor. Sedang, pelaksanaan kegiatan perakitan, mulai dari sel surya impor dirakit menjadi modul surya hingga menjadi PLTS, hanya ada satu perusahaan, yaitu PT LEN Industri. Kapasitas produksi modul surya 1,2 MWp/tahun.

Jika hanya mengandalkan wafer Si (bahan dasar membuat sel surya) impor, maka PLTS masih merupakan barang yang mahal. Terlebih saat ini, pengembangan PLTS juga booming di negara lain. Akibatnya, harga makin mahal. Sekitar dua tahun lalu, harga wafer Si dengan ukuran 10 x 10 cm, ebal 0,3 milimeter sekitar 1,51 dolar AS. Tapi kini harganya mencapai 2,54 euro.

Ketergantungan atas impor membuat PLTS lebih mahal. Lain hal jika kita mampu memproduksi sel surya sendiri, apalagi menciptakan teknologi sel surya yang lebih murah.

Peneliti LIPI, Prof Ika Hartika Ismet, meneliti teknologi sel surya yang lebih sederhana, berbahan lebih murah, dan bisa bersaing dengan sel surya impor. Ika Hartika menghilangkan atau mengganti sejumlah bahan sel surya konvensional.

Bahan pasta fosfor diganti asam fosfat. Hasilnya mengurangi biaya sel surya sekitar 0,75 dolar AS. Proses pembentukan sambungan p-n yang semula menggunakan teknologi screen printing diganti metode spray yang lebih sederhana dan murah.

Wafer Si monokristal juga diganti dengan Si multikristal, yang harganya 40 persen lebih murah. Penggantian ini menekan biaya sekitar 1,13 dolar AS. Wafer Si merupakan komponen yang paling besar dalam penentuan harga sel surya, yaitu sekitar 50 persen.

Teknologi hasil riset ini menghemat biaya sekitar 2,24 dolar AS per sel surya. Apalagi jika bahan impor pasta ARC diganti dengan bahan seng oksida yang mudah dan gampang didapat di pasaran lokal, maka penghematan akan bertambah lagi sekitar 0,40 dolar AS per sel surya. `’Dengan teknologi yang saya kembangkan ini, kelihatannya kompetitif,” ungkap Ika Hartika.

Dengan prototipe yang ada, listrik yang dihasilkan baru sekitar 33 Watt. Atau bisa digunakan untuk 2 lampu, TV, dan Radio. Tapi jika terus dikembangkan maka bisa menghasilkan listrik yang lebih besar. `’Produk dengan sel surya impor sudah menghasilkan 50 Watt,” ujar Ika.

Menghadirkan penguasaan teknologi maupun fabrikasi system PLTS dari hulu hingga hilir tentu bukanlah hal mustahil. Hanya saja, dibutuhkan political will pemerintah.

Dari permukaan PLTS terkesan lebih mahal. Itu merujuk pada biaya pemasangan per unit yang mencapai Rp 3,5 juta (sel surya impor). Jelas lebih mahal dibanding pemasangan listrik dari PLN, yang beberapa ratus ribu rupiah saja.

Tapi, jika memperhitungkan biaya bulanan, PLTS jauh lebih hemat. Sebab umur alat ini bisa 20-30 tahun. Lagi pula, bisa mengurangi penggunaan BBM.

Fakta Angka
Rp 3,5 juta

Biaya pemasangan listrik tenaga surya dengan komponen sel surya impor.
(dwo )

(Digunting-tempel dari Harian Republika)

About these ads

10 Comments

Filed under Kliping Sel Surya

10 responses to “Menimang Listrik Tenaga Surya

  1. sebelumnya terima kasih banyak
    saya sangat tertarik untuk melakukan pengembangan tentang pemakaian dan pemamfaatan tenaga surya untuk listrik…
    di daerah saya acapkali pasokan listrik dari pln sangan t minim.

    saya ingin mengetahui bagaimana caranya jika saya mau membuat plts di daerah saya sesuai dengan standar kemampuan rumah tangga seperti di india dan jerman….
    tolong berikan penjelasan dertail mengenai komponen dan pemasangannya ari surya sampai lampu di rumah dapat menyala

    terima kasi banyak..

  2. anang fahmi

    Mohon di kirim skema atau foto-foto cara merakit sendiri solar sell. kami sedang mengembangkan energi terbarukan dalam program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri di propinsi Bengkulu.

    atas kerjasama dan perhatiannya disampaikan terimakasih

  3. Asep Nurman

    Saya ingin merakit plts dgn daya 1000 watt, dapatkah bapak memberikan skema pembuatan atau tatacara/panduan pembuatannya, terimakasih.

  4. asSalaamu’alaykum,
    Bagi kami, sungguh menggembirakan dgn.adanya tanggapan atas artikel ini.
    Sudah sa’atnya kita bergabung ke dalam suatu forum utk.membahas dgn.lebih mendalam tentang pemanfa’atan tenaga surya.
    Sudah ada dua forum yg.kami “temu”kan:

    http://www.energiterbarukan.net/forum/profile.php?mode=viewprofile&u=9499
    http://www.alpensteel.com/component/fireboard/?catid=6

  5. fandy liferdy

    terima kasih atas artikelnya. saya sangat terispirasi untuk membangun listrik desaku di KalBar namun saya tidak tahu harus bagaimana. saya akan sangat berterima kasih bila bapak bersedia mengirimkan skema pembuatan PLTS beserta alat2 yg dibutuhkan dalam perakitan PLTS ini. terima kasih

  6. Yuky Arnold

    Saya sangat tertarik dengan PLTS. Saya ingin membangun PLTS dengan daya 1000 watt. Mohon untuk dikirimkan skema rangkaian dan panduannya untuk saya pelajari. Terima kasih.

  7. cuk ansyori

    Sebenarnya saya inginkan sekali cuma sy ingin bertanya apakah solar cell tersebut bisa dipakai untuk pabrik yg skalanya 100.000 watt dan tiga pass mohon penjelasannya

  8. Mulyadi

    Kita tunggu produksi dalam negeri dulu atau beli yang import aja nech?

  9. antodian

    mohon lebih diperjelas untuk pembuatan sel mataharinya kok kayaknya ribet padahal kalo dipakai skala rumah tangga berapa rupiah yang bisa dihemat dari pemakaian tenaga matahari,

  10. Indonesia terletak di garis katulistiwa, sehingga Indonesia mempunyai sumber energi surya yang berlimpah dengan intensitas radiasi matahari rata-rata sekitar 4.8 kWh/m2 per hari di seluruh wilayah Indonesia. Dengan berlimpahnya sumber energi surya dan banyaknya wilayah di Indonesia yang belum memiliki aliran listrik, penggunaan energi surya untuk membangkitkan listrik adalah alternatif yang sangat menarik. Sayangnya biaya untuk membangkitkan listrik dengan tenaga surya adalah mahal.

    Umumnya pembangkit listrik tenaga surya adalah menggunakan panel surya atau dalam bahasa inggris nya adalah solar panel. Solar panel/ panel surya adalah kumpulan dari sel silikon (disebut juga solar cells) yang disinari matahari/ surya, membuat photon menghasilkan arus listrik. Sebuah sel silikon menghasilkan kurang lebih tegangan 0.5 Volt. Jadi sebuah panel surya 12 Volt terdiri dari kurang lebih 36 sel (untuk menghasilkan 17 Volt tegangan maksimun).

    Pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) ekonomis untuk daerah terpencil yang belum terjangkau oleh listrik dari Perusahaan Listrik Negara. Saat ini program pemerintah untuk komunikasi bagi daerah terpencil seperti USO (Universal Service Obligation) banyak memanfaatkan tenaga surya. USO mengimplementasikan telepon dan internet.

    Selain itu PLTS juga banyak digunakan untuk televisi, pompa air, lemari pendingin PUSKESMAS, komunikasi BTS.

    Biaya pokoknya listrik dari beberapa sumber daya adalah sebagai berikut:

    * Dari bahan bakar minyak atau diesel Rp 1.600-Rp 1.800 per kilowatt hour (kWh)
    * Batu bara Rp 250-Rp 350 per kWh
    * Gas Rp 350-Rp 450 per kWh
    * Panas bumi Rp 700-Rp 800 per kWh.

    Lalu berapa biaya pokok dengan tenaga surya? Menurut Edn, harga nya pada 2010 diperkirakan menjadi USD 2,500 per kwh. Artinya sekitar Rp. 25.000.000 dengan kurs 10.000.

    lihat di http://www.linadmultypollar.indonetwork.co.id / http://www.gravitypower-generator.blogspot.com metode baru dalam produksi listrik type LN1000SW=LN1600SW

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s