Menangkap Cahaya di Pedesaan

Pernah sampai dua kali Prof. Syafi’i Ma’arif, menulis di kolom Resonansi bersyukur karena telah terpasangnya jaringan listrik secara permanen di kampung halamannya, Sampur Kudus, Sumatera Barat (Republika, 18/5/2004 dan 11/1/2005). Listrik yang sudah merupakan kebutuhan utama kita selama ini kenyataannya bagi sebahagian pihak membutuhkan waktu yang lama untuk dapat dinikmati, dalam arti kata lain, pembangunan gencar yang sudah dicanangkan ternyata masih belum mampu mendistribusikan akses listrik secara merata di tanah air.

Saat ini rumah-rumah di Sampur Kudus bisa jadi lebih beruntung dibandingkan dengan 10 juta rumah di pedesaan maupun pedalaman lain yang belum ’menikmati kemerdekaan’ -jika tolok ukur nikmat kemerdekaan ialah ‘adanya aliran listrik’. Kendala geografis tanah air kita yang berpegunungan diselang-seling dengan lautan ditengarai menjadi kendala utama penghambat distribusi listrik ke pelosok. Di sisi lain situasi daerah pelosok yang minim penghuni serta jauhnya dari instalasi listrik terdekat membuat pemasangan jaringan listrik menjadi tidak ekonomis. Sehingga, keterbatasan aliran listrik di daerah pelosok ini jamak diatasi dengan minyak bakar yang diperoleh dari kota terdekat untuk menggerakkan diesel penerangan di malam hari. Sayangnya, cara ini terhitung boros dan cukup menguras pendapatan.

Melirik Fotovoltaik


Masalah jaringan listrik di daerah pedesaan dan pedalaman tidak hanya dialami Indonesia saja. Negara-negara dengan karakteristik wilayah yang luas atau terdiri atas kepulauan memiliki persoalan yang serupa, termasuk Korea Selatan yang relatif merupakan negara maju dengan konsumsi per kapita energinya lebih dari 4.000 kWh (kiilo-Watt-hour). Persoalan di Korea Selatan sendiri secara kasar dapat disamakan dengan Indonesia, yakni berkutat pada bagaimana meratakan distribusi listrik untuk pedesaan dan kepulauan.Usaha untuk memecahkan persoalan ini sudah mulai di jalankan secara serius pada tahun 1988 di mana Korea Institute of Energy Research (KIER), lembaga penelitian nasional Korea di bidang energi terbaharukan, membangun sistem pembangkit listrik fotovoltaik pertama di pulau Hahwa di propinsi Junnam, dan diikuti aplikasi serupa di pulau Mara pada tahun 1991 dan pulau Ho dua tahun berikutnya (Hwang, 1997). Aplikasi sistem fotovoltaik ini didesain untuk menunjang kegiatan penerangan serta telekomunikasi untuk daerah yang terisolasi.

Teknologi fotovoltaik (photovoltaic) atau yang lebih merakyat disebut dengan sel surya, merupakan sistem pembangkit listrik yang mengubah secara langsung sinar matahari (foto dari kata photon) menjadi tegangan listrik (voltaik dari kata voltaic).

Di Indonesia sistem pembangkit listrik sel surya sudah cukup lama dikenal dan dicoba untuk mengatasi persoalan-persoalan di atas, terutama di pedesaan. Tercatat sejak tahun 1984, di daerah Gunung Kidul terpasang sistem sel surya terpusat berdaya 19 kilo-Watt untuk keperluan menggerakkan pompa air atas kerja sama BPPT-NEDO (New Energy and Industrial Technology Development) Jepang. Kemudian menyusul pada Juni 1989, sistem sel surya berdaya 71 kilo-Watt diujicobakan di desa Taratak, Lombok Tengah dengan menggandeng GTZ Jerman, sebuah lembaga donor yang berkhidmat pada pembangunan berkelanjutan (Muhida, 2001).
Salah satu pilot project sistem penerangan berbasis sel surya untuk pedesaan yang terkenal ialah sistem di desa Sukatani, Jawa Barat yang dibangun atas kerjasama Indonesia-R&S Eindhoven Belanda, yang mengintegrasikan 85 SHS (Solar Home System) di mana setiap atap rumah penduduk terpasang sebuah modul sel surya lengkap untuk penerangan rumah tangga maupun penerangan jalan dan pemanfaatan televisi desa. Dewasa ini, telah terpasang lebih dari 25.000 SHS di 190 desa di wilayah timur Indonesia (Dasuki, 2001, Hegedus 2004).

Menangkap Cahaya

Ketika sinar matahari yang disebut dengan partikel foton terserap ke dalam sel surya yang terbuat dari semikonduktor, maka elektron-elektron di dalam semikonduktor terbebas dari keterikatannya dengan atom. Hanya dengan menghubungkan sel surya dengan lampu bohlam misalnya, maka elektron seara otomatis mengalir dari semikonduktor ke bohlam menghasilkan arus listrik sehingga bohlam menyala, atau jika dihubungkan dengan baterei, maka muatan listrik akan tersimpan di dalam baterei. Seperti itulah prinsip kerja sel surya.
Sel surya sendiri ditemukan secara tidak sengaja di Bell Laboratories, Amerika Serikat pada tahun 1954, ketika peneliti di sana melihat adanya perbedaan tegangan (voltase) pada semikonduktor ketika lampu ruangan dinyalakan. Hanya dalam waktu setahun, sel surya yang terbuat dari semikonduktor Silikon (bedakan “silicone” yang digunakan untuk bedah plastik) dengan efisiensi 6% telah berhasil di buat.

aat ini, mudah menemui sel surya dalam aplikasi sehari-hari. Contoh sel surya yang mudah ditemui ialah pada kalkulator bertenaga surya di mana terdapat sebuah panel kecil yang berfungsi menangkap cahaya matahari. Besar-kecilnya ukuran sel bervariasi disesuaikan dengan aplikasi; apakah untuk lampu penerang jalan yang hanya membutuhkan beberapa puluh watt, atau untuk menggerakkan pompa air. Solar House yang dikelola oleh Solar Energy Research Center Yeungnam University sebagai rumah prototip bertenaga surya memiliki sistem sel surya berdaya 10 kilo-Watt.

Akses ke Semua Orang

Nyaris tidak ada wilayah di permukaan bumi yang tidak tersentuh sinar matahari. Meski dengan intensitas cahaya yang sedikit berbeda, setiap sudut di bumi memiliki akses yang sama dengan cahaya matahari, dari perkotaan hingga pegunungan, dari pinggir pantai hingga hutan yang belum terjamah. Dari pengukuran meteorologi, rata-rata energi yang dihantarkan cahaya matahari yang jatuh ke permukaan bumi setara dengan 4.000 Wh (Watt hour) tiap meter persegi, sebuah potensi energi yang luar biasa untuk dimanfaatkan. Sayangnya, baru 10-15% dari energi ini yang mampu dimanfaatkan oleh teknologi sel surya saat ini. Uniknya, dengan tingkat efisiensi sel surya yang “baru segitu”, kebutuhan dunia akan energi dapat tercukupi jika 1% saja permukaan bumi kita tutupi oleh sel surya. Meski usaha ini tidak realistis dan tidak ekonomis.
Memanfaatkan sumber lisrik dari cahaya matahari yang nyaris tidak habis dan berlimpah tanpa terbatasi oleh ruang, sel surya merupakan teknologi yang paling menjanjikan untuk menawarkan pemecahan atas ketidakmerataan distribusi listrik ke pedalaman dan pedesaan seperti telah diujicobakan pada beberapa desa percontohan yang disebutkan sebelumnya.
Andai sel surya ini memasyarakat sejak dulu, maka tidak perlu kampung Sampur Kudus menanti hingga 60 tahun untuk bisa menikmati kemerdekaan

5 Comments

Filed under Opini

5 responses to “Menangkap Cahaya di Pedesaan

  1. Ratno

    Mister..
    Kalau punya gambar rangkaiannya
    tolong di kirim ke alamat email saya donk..
    thanks a lot…

  2. mister..kalau punya gambar rangkaiannya..tolong dikirim ke alamat email saya donk..thanks..yahc..

  3. Rachmat Adhi Wibowo

    Salam Mas Ratno..

    Trims atas kunjungannya.
    Untuk gambar rangkaian akan saya kirimkan nanti. Kebetulan pekan ini saya tengah ada di luar kota menghadiri seminar.
    Namun untuk semenara, bisa kunjungi situs Wikipedia http://www.wikipedia.org
    di sana ada skematik sirkuuit sel surya secara ringkas.
    Makasi lho kunjungannya.

  4. saya sangat setuju dengan diadakannya pemberdayaan tentang enersi surya. saya membutuhkan jurnal yang lengkap tentang energi surya agar saya bisa bisa lebih jelas mengetahui dengan jelas begaimana pembuatan sel surya dan cara pemasangannya.kalau bisa kirim ke email saya.

  5. Rachmat Adhi Wibowo

    Salam Sdr/i Koming.

    Terima kasih komentarnya.
    Jika ingin mengetahui pembuatan sel surya, ada di Blog saya ini ttg “Sel Surya Silkon Sang Primadona”.
    Namun, saya kira bukan pembuatan sel surya yang dimaksud, karena sangat susah dan mahal. Jika pemasangannya mgkn bisa di cari di website website internet. Cukup banyak di sana. Jika saya temukan akan saya kirim ke Anda.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s