Skenario dalam sebuah disaster management : dimanakah sel surya berperan?

Bayangkan skenario ini terjadi di masa depan….

Di sebuah provinsi yang tengah giat-giatnya membangun. Segala bentuk infrastruktur dimunculkan untuk menopang kegiatan ekonomi, pendidikan, sosial dan budaya. Provinsi ini banjir dengan turis asing maupun lokal dengan obyek pariwisata yang melimpah; gunung, peninggalan berejarah, situs alam, pusat perbelanjaan serta pantai nan elok. Pemerintah provinsi (Pemprov) daerah ini memiliki pemimpin yang bervisi, pegawai pemeritahan yang enerjik, dtopang oleh komponen masyarakat yang cerdas, pekerja keras dan berpengetahuan tinggi. Mengambil pengalaman dari pelajaran dan sejarah daerah tahun-tahun sebelumnya, ia mencanangkan pondasi-podnasi pembangunan segala aspek di segala bidang dengan rinci, detil dan teliti.

Namun pada suatu waktu, datanglah bencana alam yang tiba tiba. Gempa bumi sekian skala Richter, berpusat di dasar laut dekat pantai di sebelah selatan. Di daratan, sebagian besar tipe bangunan fisik luluh lantak meninggalkan puing-puing bangunan yang menggunung. Di pinggir pantai, perkampungan nelayan, obyek wisata dan tempat peristirahatan musnah tak berbekas akibat hantaman tsunami hingga sekian kilometer ke arah daratan. Korban berjatuhan, situasi panik, segala sarana maupun prasarana penunjang hidup terputus; telekomunikasi, transportasi, air bersih, penerangan, suplai bahan bakar, serta persediaan makanan, diperparah dengan tidak jalannya pemerintahan di daerah-daerah yang parah tertimpa bencana.

Pemprov bertindak cepat. Berkaca dari kejadian di masa lalu, mereka sudah mempersiapkan matang-matang konsep disaster management atau yang dikenal dengan manajemen penanganan bencana alam dan merealisasikannya sebagai aksi tanggap darurat di masa bencana tiba.

Jauh-jauh hari sebelumnya, Pemprov mengkaji hasil evaluasi penanganan bencana sebelumnya. Berbekal laporan penanganan yang dilakukan oleh pemerintah pusat, pemprov masa sebelumnya, LSM-LSM, dan lembaga penyalur bantuan bagi korban bencana alam, Pemprov sudah sedikit banyak lebih siap dalam menghadapi situasi pasca bencana.

Pemprov kini telah memiliki sebuah jip sejenis Humvee yang didesain dan dipesan secara khusus untuk menghadapi aneka medan bancana. Berisikan alat-alat vital yang diperlukan oleh team advance untuk membuka daerah yang terisolir akibat putusnya jaringan transportasi. Berisikan petugas gabungan yang dilatih khusus untuk keperluan ini; bebrapa polisi, marinir, teknisi, dan paramedis atau anggota LSM. Dilengkapi dengan alat P3K lengkap, dan tenda pengungsian. Konsep jip ini juga diterapkan pada beberapa helikopter milik Pemprov, namun dikarenakan keterbatasan anggaran –anggaplah demikian- kendaraan darat merupakan hal yang paling realistis.

Jip ini memimpin sebuah kendaraan lain yang lebih besar; sebuah truk. Truk ini berisikan peralatan sel surya lengkap dengan peralatan penunjangnya; panel surya berdaya 1000-2500 Watt, baterei, kabel, serta platform untuk memasang panel tersebut. Selain itu, di dalam truk juga disediakan lemari pendingin (refrigerator) untuk vaksin dan untuk menyimpan obat-obatan, pemancar radio dan Base Transceiver Station (BTS) untuk keperluan telekomunikasi regional nirkabel. Tidak lupa gen-set cadangan.

Dua set kendaraan tersebut dikirim Pemprov ke daerah-daerah bencana alam, terutama difokuskan ke daerah yang terparah. Yang pertama kali tim ini lakukan ialah membuka jalan ke daerah terparah kemudian mempersiapkan sarana dan prasarana darurat. Pertama-tama tim advanceini memasang tenda darurat. Kemduian mereka dengan sigap memasang panel surya dengan menggunakan plattform yang sudah dibawa. Panel surya ini dipasang di lapangan terbuka, atau untuk menjaga keamanan, dipasang di balai desa atau kantor Lurah/Kades. Setelah terpasang, panel surya ini dihubungkan dengan kabel yang cukup panjang sehingga dapat menjangkau tanah lapang atau daerah pengungsian sementara. Kabel-kabel tersebut juga dihubungkan ke balai desa sebagai disaster center setempat. Diskenariokan, panel surya ini diharapkan dapat menjadi pembangkit listrik sementara untuk dearah bencana dalam radius 3-4 km. Gen-set dipasang apabila tim advance ini datang di malam hari atau sebagai cadangan panel surya jika sewaktu-waktu ada masalah teknis, mengingat panel surya baru dapat berfungsi optimal ketika matahari terbit hingga menjelang terbenam.

Ketika segala sesuatunya siap, di pagi hari, panel surya ini mulai bekerja. Ia mengubah cahaya matahari menjadi listrik dan menyimpannya ke dalam baterei-baterei yang sudah dipersiapkan. Setiap baterei, jika dijalankan sebagai penerangan lampu di malam hari, mampu bekerja menerangi sekian buah lampu dengan baik untuk jangka waktu 7-8 jam, jadi cukup untuk sumber energi penerangan di malam hari. Baterei ini jika diperlikan dapat didistribusikan ke tempat-tempat lain untuk maksud yang sama dan dapat di re-charge  ketika habis tenaganya. Panel surya ini juga dihubungkan ke lemari pendingin vaksin dan obat-obatan. Tenaga paramedis yang datang dapat menggunakan obat-obatan ini untuk keperluan penanganan pasca bencana alam dalam mencegah penularan penyakit dan sebagainya. Kabel dari panel surya ini pun dihubungkan ke pompa air / jet pump di beberapa rumah warga (2-3 buah pompa) yang mengalirkan air bersih untuk dipergunakan selama masa pemulihan. BTS yang terintegrasi di dalam truk pun mulai berfungsi. Telepon genggam dan jaringan telekomunikasi darurat lain pun sudah mulai berfungsi dengan semestinya setelah diberi suplai listrik dari panel surya yang lebih memudahkan arus informasi, pendataan kerugian, penyebaran berita terkini, serta membuka akses untuk datangnya bantuan lebih lanjut.

Jalan menuju daerah bencana baik malam maupun siang hari yang telah dibuka oleh tim advance ini sudah lebih baik sehingga aliran sembako, bahan bakar, bantuan tenaga sukarelawan serta penyaluran sumbangan hasil pengumpulan dana bencana alam dari daerah lain di Indonesia dapat tersalurkan dengan tepat sasaran. Pulihnya jalur telekomunikasi memudahkan penanganan bencana dengan lebih mudahnya mengatur bantuan serta menghindari adanya ketimpangan penyaluran bantuan antardaerah yang terkena bencana. Dikarenakan keberadaan sumber listrik darurat, maka dibuatlah sebuah pemancar radio kecil yang dipersiapkan tim advance sebagai sarana hiburan, berita sampai penyegaran ruhani untuk korban bencana.

Berkat kesigapan pemerintah provinsi ini, kesulitan pasca-bencana alam sebagaimana yang sudah-sudah dapat menjadi lebih ringan. Sebuah alternatif aplikasi dari sel surya untuk penanganan pasca-bencana dan pemulihannya.

_________________________________________

(Tulisan ini saya dedikasikan untuk Arif Nur Kholis dan Dodong Priyambodo sebagai koordinator-koordinator lapangan pada program People Kampong Organized (PKO) Muhammadiyah–AuSAID atas kinerjanya, kontribusinya dan komitmennya yang luar biasa ketika menangani pemulihan pasca-gempa Yogyakarta sejak Mei 2006 lalu. Semoga Allah memudahkan rejeki kalian……)

Leave a comment

Filed under Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s