Paradigma kita dalam memandang alam

Masih ada yang masyarakat yang memegang paradigma “menaklukan alam” di mana manusia menunjukkan superioritasnya atas alam. Alam dijadikan objek yang harus ditundukkan sesuai dengan keinginan manusia. Belakangan paradigma ini berubah –atau diubah- setelah munculnya banyak kritik atas paradigma lama yang cenderung kapitalis tersebut. (A. Mahzar, 2002). Kritik yang muncul karena adanya keprihatinan atas kerusakan alam; emisi CO2 yang memunculkan efek rumah kaca dan naiknya permukaan laut, polusi, serta kerusakan hebat di hutan tropis yang memusnahkan banyak spesies hewan dan tumbuhan dan di sisi lain baik langsung maupun tidak telah mengakibatkan kemiskinan di negara-negara dunia ketiga akibat aliran massif sumber daya alam dari negara dunia ketiga ke negara maju (Murasa, 2004).  

Perubahan paradigma ini ditandai dengan adanya kesadaran tentang bahaya global atas dampak dari kerusakan di atas. Pandangan baru tersebut terejawahkan pada United Nation Conference on the Human Environment, Stockholm, Swedia Juni 1972 yang membawa dunia pada isu-isu atas dampak negatif industrialisasi pada lingkungan, Earth Summit di Rio de Janeiro 1992, di mana dunia sudah berpikir ke arah sebuah pemikiran global akan energi dan perubahan iklim, serta Protokol Kyoto 1997 yang menekankan isu penekanan emisi gas CO2 dan pengembangan kesinambungan energi melalui energi hijau-terbaharukan (sustainable energy from green and renewable energy)(K. Abdullah, 2005).

Dunia sudah nampak ramah terhadap alam. Studi, penelitian dan penerapan kebijakan  atas keseimbangan alam dan manusia, pemanfaatan energi yang ramah linkungan, pencarian sumber-sumber energi baharu dan terbaharukan, secara global sudah dimulai. Terlebih adanya perang Arab-Israel serta embargo minyak atas negara-negara Barat awal tahun 1970 oleh negara-negara Arab, secara langsung turut mendorong penelitian dan pencarian energi alternatif pengganti bahan bakar fosil (Hegedus & Luque, 2004).    

Penafsiran atas perubahan paradigma lama yang cenderung destruktif menjadi paradigma baru yang berusaha konstruktif membuka mata dunia dan membawa hikmah bagi kita bahwa ada banyak cara dan alternatif dalam memanfaatkan alam tanpa merusak demi kesejahteraan dan kemakmuran umat manusia.  Sudah saatnya kita tidak lagi “dininabobokan’ dengan klaim bahwa  Indonesia ialah negara kaya akan minyak bumi.  Menurut data tahun 2001 ASEAN Center for Energy (K. Abdullah, 2005), cadangan minyak bumi negara kita ialah 9,8 milyar barel yang terdiri atas 5,2 miliyar barel yang sudah terbukti (proven reserves) dan sisanya 4,6 miliyar barel masih sekedar potensial (potential reserves). Bila tingkat produksi minyak bumi kita tetap 540 juta barel per tahun, maka dalam waktu 18 tahun ke depan, minyak kita habis. Di saat yang bersamaan, kecenderungan global sekarang ialah mengurangi emisi CO2 yang tentu saja bermakna mengurangi tingkat pemakaian bahan bakar fosil yang destruktif, namun justru di negara kita BBM masih merupakan primadona, entah apakah itu ialah primadona masyarakat ataukah primadona pemerintah.  Kondisi di negara kita, bisa dikatakan idak ada alternatil sumber energi lain yang diajukan untuk mengatasi “rutinitas tahunan kenaikan harga BBM”.

BBM secara de facto masih merupakan sumber bahan-bakar utama yang dapat dimanfaatkan. Entah itu di perkotaan apalagi di pedalaman, BBM-lah sumber energi yang sebenarnya. Kondisi ini dipertegas dengan kerumitan kondisi geografis negara kita yang terdiri atas banyak pulau, lautan, lembah dan gunung yang menyebabkan hanya 46% dari 18 juta rumah rumah yang bisa diterangi dengan listrik PLN (AS. Dasuki, 2001). Selebihnya  masih harus menunggu realisasi program penerangan masuk desa wa bil khusus di pedalaman alias rural electrification. Banyak kisah bagaimana saat malam hari para warga pedesaan harus menyalakan gen-set diesel yang boros serta jelas menghabiskan minyak (dan uang) untuk penerangan di malam hari. Kondisi geografis pula yang menyebabkan ketidakmerataan distribusi LPG Pertamina ke desa-desa selain juga karena hargannya yang baru bisa dinikmati oleh kalangan menengah-atas. Jeritan masyarakat menengah-bawah atas kenaikan tahunan harga BBM harus pula ditafsirkan tidak hanya dilihat dari sisi ekonomi dan daya beli saja, namun juga harus memasukkan variabel  “tidak adanya alternatif bahan bakar lain” yang ditawarkan dengan daya guna yang mendekati BBM. Selalu masyarakat tidak punya banyak pilihan manakala harus menghadapi kenyataan satu-satunya bahan bakar yang “murah” dan “luas cakupan distribusinya” ternyata tidak lagi terjangkau karena rendahnya daya beli.  

Dulu, briket batu bara merupakan alternatif selain BBM yang getol ditawarkan khususnya bagi pemakaian bahan bakar rumah tangga dan industri kerajinan semisal pengecoran logam. Namun kendala produksi, distribusi, serta karakteristik batu bara kita yang tergolong batu bara muda yang terlalu banyak karbon menyebabkan pembuatannya (briketisasi) menjadi kurang efisien sehingga pemakaiannya tidak menggembirakan.

 Begitu pula dengan teknologi bio-diesel, teknologi yang praktisnya menggabungkan minyak kelapa sawit dengan solar, masih dalam taraf penelitian dan belum komersil di tanah air kita. Penerapan teknologi sel surya (photovoltaic) dan pemanas surya (solar heater) masih dalam taraf uji coba dalam mengatasi ketidakmerataan distribusi listrik di pedalaman. Kendalanya ialah, masih mahalnya sel surya dan rendahnya efisiensi sel surya komersil membuat sumber energi sel surya masih belum bisa berkompetisi dengan BBM. Protokol Kyoto telah mengikat dunia akan sebuah kesepahaman dan kesepakatan tentang kelestarian lingkungan hidup serta paradigma baru dalam memandang hubungan alam-manusia. Dengan semangat ini pula masyarakat dan para pengambil kebijakan bisa mengambil pelajaran bahwa nun di sana dengan penelitian dan kerja keras, pastilah ada bahan bakar alternatif selain BBM sehingga masalah klasik harga BBM tidak selalu berputar kembali. 

Gyeongsan, 14 Maret 2005

(Sebuah dokumen yang tercecer… pernah saya publikasikan di milis PERPIKA pada tanggal tersebut di atas…)

Leave a comment

Filed under Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s