Mesin Tik Buya dan Laptop Tukul

Belakangan ini saya baru yahu jika Buya Syafii Maarif hampir selalu menuliskan pemikirannya dengan sebuah mesin ketik. Hal ini saya ketahui dari seorang rekan yang mengirimkan sebuah scan manuskrip pemikiran Buya yang –menurut penuturan rekan tersebut- beliau tulis di tahun 1993. Ketika saya lihat dan baca, manuskript tersebut diketik dengan sangat rapi. Hampir tidak ada coretan perbaikan di sana sini apalagi tip-ex, dan diketik dengan satu setengah spasi dengan sangat rapi, menandakan beliau memang sudah sangat terbiasa, mahir dan memiliki jemari yang lincah dalam menekan tuts mesin tiknya. Kurang mengerti kenapa manuskrip ini belum juga beliau publikasikan ke media umum maupun media Suara Muhammadiyah (karena isinya tentang dakwah di tubuh Muhammadiyah) sampai ditemukan oleh rekan saya yang entah kebetulan maupun disuruh untuk ngegeratak perpustakaan pribadi Buya di rumahnya.

Agaknya mesin tik itu ialah mesin tik istimewa. Jika Buya konsisten dengan menggunakan mesin tik tersebut, bisa jadi alat tulis terkenal pada zamannya itu manjadi saksi bisu mengalirnya pemikiran-pemikiran jenius Buya. Bagaimana tidak, pembaca di seantero tanah air maupuan WNI di luar negeri dikunjungi Buya hampir setiap pekan melalui kolom Resonansi Republika yang dapat diakses juga dari internet; kolom yang singkat, padat dan kadang berisikan materi-materi yang menggugah yang membacanya.

Itu baru di kolom rutin. Sebagai orang yang banyak membaca karya beliau dan pernah berinteraksi langsung sekian lama, jamak saya temui tulisan-tulisan beliau di media-media massa nasional, lembaran-lembaran pidato, makalah pembicara, khutbah, maupun buku. Bagi yang kenal dengan beliau, hampir tidak ada perbedaan signifikan mengenal beliau dari tulisan maupun secara langsung; tegas namun santun dan brilian dalam gagasan mapun pemilihan kata. Dan agaknya beliau menyadari apa yang tidak dilakukan oleh pendiri Muhammadiyah KH Ahmad Dahlan; yakni banyak-banyak menulis pemikirannya. Karena runtunan sejarah maupun pemikiran seseorang dapat dikenal-pahami dengan menjejaki tulisan-tulisannya. Menurut beliau, sulit mendekati pemikiran KH Ahmad Dahlan karena Sang Kiyai hanya sedikit menulis pada waktu itu.

Mengingat pola beliau dalam menulis, kebiasaan, serta umur yang sudah cukup sepuh, bisa dipastikan tulisan di kolom Resonansi itu disiapkan Buya dengan mesin tiknya. Sebuah mesin sederhana yang kiranya tidak sesederhana kelihatannya jika dikatalisasi dengan kreativitas membuat sebuah output tulisan yang menggetarkan peradaban.

(Jadi ingat polemik beliau dengan Dr. Deliar Noer dulu mengenai kapan tepatnya kelahiran Syarikat Islam (SI). Deliar Noer berpendapat SI lahir pada tahun 1905, sedangkan Buya berpegang pada tahun 1911, ah saya lupa yang pasti bukan tahun 1905. Deliar Noer berargumen dengan melandasi tulisan saksi berdiriya SI yang ia yakini pada tahun 1905 sedangkan Buya berpendapat bahwa satu satunya dokumen otentik yang menerangkan pendirian SI ialah tahun 1911. Bagi yang sensitif dengan Islam, jika memang benar pendapat Deliar mengenai SI, maka konsekuensinya hari Kebangkitan Nasonal bukanlah didorong atas kelahiran Boedi Oetomo. Namun dalam hal ini, Buya bersikeras bahwa secara kesejarahan, kedudukan otentitas sebuah dokumen berada di atas segalanya dan dapat dipertanggungjawabkan. Bisa jadi ini pula yang menjadikan beliau menyuruh kami yang muda-muda untuk selalu menulis dan mendokumentasikan tulisan tersebut.)

Keberadaan mesin tik Buya ini menerawangkan saya ketika dihadapkan pada betapa kecilnya manfaat sebuah gadget yang sudah menjadi aksesori kekinian. Telepon genggam yang memiliki multifungsi dari kamera digital, telpon, web browser, agenda, atau smart card paling-paling hanya termanfaatkan untuk kirim SMS, apalagi di tangan anak-anak SD-SMU. Atau sebuah laptop idaman para commuter atau bussiness traveller yang sering bolak balik kerja, agaknya jika tidak terkoneksi ke internet, tamatlah fungsi laptop tersebut bagi pemiliknya dan hanya meninggalkan fungsi prestisenya saja. Tengok pula gadget lain semisal MP3 player yang mengalihkan pendengarnya sampai tertidur alih-alih melakukan aktifitas menghidupkan otak seperti membaca buku dikala senggang dan berpergian.

(Salut sama gadis Inggris nan ramah yang duduk di kursi samping saya yang selama perjalanan 10 jam Hongkong-Auckland di sebuah penerbangan yang tetap tekun membaca sebuah buku sambil sesekali menemani ngobrol…)

Gadget sebagai contoh produk teknologi sekarang agaknya mulai menjauhkan manusia dari tujuan utama dikejarnya sains dan teknologi itu sendiri; yakni memanusiakan manusia; relasi sosial, manusia yang bermanfaat bagi manusia lain, moral, etika dan sebagainya. Aspek kemanusiaan sebagai titik sentral sains dan teknologi terabaikan dan tertutup oleh mentalitas indivudial yang asal mendapatkan kesenanangan dan kepuasan materi atau mentalitas kekerdilan karena kurang keras belajar mengenali apa hakikat sains dan teknologi. John Naisbitt penulis Megatrend 2000, dalam bukunya High Tech-High Touch jauh jauh hari mengungkapkan hal terssebut, bukan saya.

Laptop dengan pelbagai fasilitas dan kemudahan inherennya hanya sekian persen saja yang sejatinya bermanfaat bagi penggunanya sendiri. Berapa banyak tulisan yang mencerahkan orang lain lahir dari sebuah laptop misalnya? Berapa seringkah ia digunakan untuk menuliskan gagasan-gagasan kemanusiaan dan keilmuan terlepas dari profesi pengguna yang bersangkutan? Bukankah namanya sebuah kekerdilan manakala laptop hanya dimanfaatkan untuk menonton film sebagai teman perjalanan atau alat canggih untuk chat atau bahkan sekedar alat stempel modernitas dan kemegahan manusia-manusia metropolitan ditengah-tengah kemiskinan seperti yang dipajang dalam acara Empat Mata-nya Tukul?

Malulah kita dengan mesin tik yang dipunyai oleh orang-orang berpikiran jenius dan cemerlang. Yang meski keterbatasan dan keserhanaan teknologinya, ia mampu membawa pemiliknya menembus zaman. Ingat karya bersahaja namun monumental Dr. Mohammad Hatta, Demokrasi Kita? Ditulis dengan mesin tik tahun 1956 namun ketika membacanya seakan-akan isinya menggambarkan kondisi krisis di tanah air tahun 1998-hingga sekarang.

Dari sini, kemajuan sains dan teknologi dapat dipastikan tidak diimbangi dengan kemajuan mentalitas dan kedalaman pengenalan manusia tentang tujuan awal sains dan teknologi itu sendiri. Sains dan teknolgi lebih cepat melesat dibanding dengan sikap inheren kita. Kekerdilan respon terhadap kemajuannya, penolakan terhadap produk-produk teknologi serta juga malpraktek penggunaan produk teknologi bisa kita ambil sebagai bahan perenungannya.

Sepele, namun agaknya kita membutuhkan jiwa dan mentalitas orang-orang besar nan jenius untuk sekedar memanfaatkan gadget atau produk sebuah teknologi sehingga menkoneksikan kembali manfaat produk sains dan teknolgi dengan sisi kemanusiaannya.

7 Comments

Filed under Blog

7 responses to “Mesin Tik Buya dan Laptop Tukul

  1. Iqrak Sulhin

    Salam,

    Tepat sekali bung Adhi. Saya kira sekarang ini kita patut khawatir dengan perkembangan teknologi yang hanya menjadi simbol identitas atau status sosial saja. Banyak orang, khususnya di Indonesia, yang harus berganti-ganti handphone karena tren. Atau membeli laptop termahal karena mengidentikkan dirinya terhadap status tertentu. Mungkin pola pikir seperti ini pulalah yang menjebak para anggota dewan kita yang terhormat. Akan atau sudah membeli laptop seharga 20 jutaan (supaya tidak kalah bersaing dengan Tukul mungkin).

    Yang penting optimalisasi apa yang ada. Banyak sumber daya yang kita miliki belum optimal. Kalaupun punya laptop pentium 2 namun menulis artikel yang mencerahkan akan jauh lebih baik ketimbang punya laptop spec tercanggih namun hanya untuk main game. Contoh Buya saya kira patut dicontoh. Saya kira Buya bukan orang yang malas untuk beradaptasi dengan teknologi. Mungkin dia tau bagaimana menggunakan laptop, tapi dia lebih memilih mengoptimalisasi apa yang sudah ada.

    Terakhir, terkait dengan kita para manusia beruntung yang bersekolah tinggi, mulailah menulis. Jejak sejarah seseorang hanya akan dapat diidentifikasi dengan tulisannya. Dengan laoptop spec tercanggih?, kenapa tidak! dengan mesin tik? tidak akan merendahkan martabat

  2. odong

    dan tulislah… apapun itu yang mampu bisa kita menuliskannya. sekecil apapun itu, sesederhana apapun itu.

  3. arif

    Ralat dikit Dhi…., Buya.. sekarang dah pake komputer, itu makalah tahun 2993. Bahkan beliau yg sudah sepuh itu mau belajar pake Komputer, pake HP Nokia Comunikator, akses internet dll. Yah… salut juga beliau mau belajar.

  4. Setuju…
    Mengutip dari pak Romy Satriya W. ‘Ikatlah ilmu dengan menuliskannya’, dengan media apapun. Jangan sampai teknologi mengatur manusia.

  5. Rachmat Adhi Wibowo

    Haha.. ya makasi semuanya,

    Anyhow, skr saya dah pula laptop. hahaha
    Bukan untuk ngikuti si Tukul, karena memang spec-nya low end, Celeron M yg mesti ada Windows aseli namun saya pakaikan Ubuntu dual boot. Murah pula….karena second hand.

    Ya alhamdulilah, produktifitas nulis meningkat.

  6. Dull

    bagai mana menurut anda tentang marak nya pembajakan lagu melalui Internet

  7. salam kenal… salut dengan buya yang brilian. saya kerap mengikuti tulisan beliau yang dimuat di kolom resonansi republika.🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s