Energi alternatif dalam perspektif kesalingtergantungan

Saya tidak yakin jika isu maupun pemanfaatan energi alternatif akan berjalan sendiri-sendiri layaknya energi konvensional saat ini. Karena hampr semua energi alternatif ternyata menyimpan kekhasan tersendiri yang berujung pada dua sisi yang sejatinya bertolak belakang; kompetisi antarenergi alternatif di satu sisi, sedangkan di sisi lain adanya saling ketergantungan antara satu dengan energi alternatif lainnya. Kedua sisi ini menuntut sebuah ‚keberpihakan’ penggiat dan peneliti energi alternatif; berpandangan bahwa energi yang satu musti mendominasi energi alternatif lain ataukah lebih berpandangan pada energi alternatif yang saling melengkapi dan saling ketergantungan.


Mari kita lihat beberapa aspek berikut.

Dengan konsep hydrogen economy yang dicanangkan oleh negara-nagara maju, maka di masa depan nanti sel bakar akan menggantikan peran bahan bakar fosil secara keseluruhan dalam menggerakkan kendaraan. Di tempat lain, studi biodiesel yang agaknya merupakan bahan bakar yang lebih murah dari sel bakar untuk diaplikasikan pada kendaraan bisa jadi merupakan jawaban terdekat mengatasi pengurangan emisi karbondioksida kendaraan plus antisipasi jangka pendek bahan bakar fosil mengalami krisis, baik krisis kuantitas maupun tingkat harga seperti sekarang ini.

Sel bakar maupun biodiesel yang sangat menjanjikan tersebut juga tidak serta merta dapat diterapkan pada sektor lain meski peluang untuk itu tetaplah ada. Untuk pasokan energi listrik rumah tangga dan industri di masa depan misalnya, ada dua kandidat yang muncul ke permukaan; sel surya dan/atau pembangkit tenaga nuklir. Dua-duanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing yang masih debatable. Di sisi lain, baik tenaga angin (wind power) maupun tenaga geothermal dapat pula diberdayakan sebagai sumber energi primer meski patut memperhitungkan bahwa energi alternatif tersebut sangat tergantung pada kekhasan sebuah daerah karena terkait dengan geologi dan kecepatan hembusan angin.


Dari sini, secara umum, dapat dikatakan bahwa tidak ada satu bentuk energi tunggal untuk suplai rumah tangga, industri maupun kendaraan di masa depan sebagai tiga yang utama pemakan energi di dunia. Semua bentuk energi akhirnya mengikuti pola pasar bebas, mana yang menawarkan energi alternatif yang paling baik, maka itu yang akan dipilih. Ini jelas sangat jauh bertolak belakang dengan kondisi saat ini di mana bahan bakar fosil mendominasi suplai energi dunia, dari sektor kendaraan, industri maupun rumah tangga.

Maka, bisa diibayangkan bahwa di masa depan nanti akan ada skenario di mana energi alternatif ini saling berlomba-lomba saling berkompetisi guna memenuhi kebutuhan energi dan ketahanan energi (energy security). Secara konseptual, skenario diversifikasi energi bisa jadi akan terwujud dengan situasi ini. Tidak ada ketergantungan terhadap satu jenis energi karena hampir semua energi alternatif di masa depan berpotensi untuk dieterapkan pada berbagai sektor.

Namun di sisi lain, konsep diversifikasi energi alternatif ini membawa konsekuensi logis berupa persaingan atau kompetisi antarenergi alternatif dengan asumsi bahwa masa depan ialah era perdagangan bebas. Sel surya akan bersaing dengan pembangkit listrik nuklir, sel bakar berhadapan dengan biodiesel sebagai contoh kecil. Parahnya, kompetisi ini membawa efek psikologis yang negatif bagi aktor-aktor peneliti (atau sebutlah penggiat energi alternatif) yang secara langsung ataupun tidak mendisreditkan jenis energi alternatif lain. Nuclear-phobia yang sering disuarakan merupakan contoh skala kecil untuk membunuh rencana pendirian pembangkit nuklir di Gunung Muria, Jawa Tengah meski pembangkit serupa sudah sangat jamak dewasa ini di dunia. Ironisnya, penggiat energi alternatif sendiri secara sadar maupun tidak turut larut berperan dalam pembunuhan rencana ini dengan menonjolkan kelemahan padahal hakikatnya sebuah kelemahan teknologi tetaplah ada dalam aneka produk energi alternatif. Situasi ini diyakini sebagai buah dari kompetisi yang berjalan menuju ke arah yang kurang sehat.

Bisakah kita melihat dalam perspektif kompetisi jika ingin mengkaji secara holistik isu energi alternatif sebagai jawaban ketahanan energi peradaban umat manusia di masa depan? Atau adakah perspektif baru yang dapat memberikan banyak manfaat dalam mengkaji isu energi alternatif?

Hasil hasil kajian di bidang sel bakar mengambil kesimpulan bahwa hydrogen production untuk menghasilkan hidrogen yang hendak digunakan pada sel bakar baik secara elektrolisis maupun dengan teknik lain perlu tenaga listrik yang disuplai dari pembangkit tenaga nuklir [1]. Keterbatasan jaringan listrik dari PLTN/PLTA dapat teratasi dengan pembangunan solar farm (ladang panel surya) di sebuah daerah kecil [2]. Atau konsep teknologi hibrida pada kendaraan sebagaimana diluncurkan pada konsep Toyota Prius yang laris manis.

Dari beberapa kutipan tren kajian energi alternatif tersebut di atas, terdapat adanya sebuah kesalingtergantungan satu energi dengan energi alternatif lainnya. Alih-alih berkompetisi antarenergi alternatif, pola saling ketergantungan antarenergi alternatif inilah yang dianggap dapat membawa manfaat jangka pendek-menengah dalam bersaing dengan harga bahan bakar fosil yang secara umum masih relatif lebih rendah dari energi alternatif. Mengambil contoh produksi hidrogen dengan PLTN di atas, terdapat adanya reduksi ongkos produksi per ton hidrogen melalaui pendekatan ini.

Di titik inilah penggiat energi alternatif patut mengambil ‚keberpihakan“ dalam menggolkan pemakaian energi alternatif. Apakah berpandangan kompetitif yang bercorak win-lose solution ataukah win-win solution dalam melihat hubungan beragamnya energi alternatif yang mengandung potensi luar biasa itu. Jika pola saling ketergantungan yang diambil, maka tidak ada kata untuk bekerja sendiri-sendiri.

Kerja sama perlu dimulai dalam menyatukan paradigma energi alternatif, konsep dasar green, renewable dan sustainable energy, visi serta gagasan besar dibalik penelitian energi alternatif perlu digiatkan. Tidak ada kata lain pula selain dengan cara saling bertukar gagasan, konsep, wawasan, ide maupun tukar informasi mengenai kelebihan masing-masing. Hal ini diperlukan dalam membangun kesiapan penggiat energi alternatif dalam menyambut tantangan masa depan yang menginginkan adanya kontribusi energi alternatif mengatasi pudarnya bahan bakar fosil.

Rujukan

[1] A.I. Miller, Romney B. Duffey, Sustainable and economic hydrogen cogeneration from nuclear energy in competitive power markets, Energy 30 (2005) 2690–2702

[2]. L. Hegedus et al. Handbook of Photovoltaic Science and Engineering, John Wiley and Sons, 2005

1 Comment

Filed under Opini

One response to “Energi alternatif dalam perspektif kesalingtergantungan

  1. rix

    assuuu….!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s