Sel Surya Perlu Pasar

Kompas, 20 Oktober 2007

Jakarta, Kompas – Dana yang dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan sel surya sebagai pembangkit listrik milik pemerintah pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara 2008 meningkat Rp 200 miliar dibandingkan tahun ini. Hal ini menunjukkan adanya peningkatan kebutuhan domestik akan sel surya.Dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2007 untuk memenuhi kebutuhan sel surya sebagai pembangkit tenaga listrik di berbagai pelosok Tanah Air mencapai Rp 300 miliar, sedangkan pada tahun 2008 nanti Rp 500 miliar.

Meningkatnya biaya ini merupakan indikasi pertumbuhan kebutuhan domestik akan sel surya sebagai salah satu sumber energi terbarukan. Dengan adanya peningkatan kebutuhan akan sel surya di dalam negeri yang cukup signifikan tersebut, seharusnya dapat segera dibuat pabrik sel surya di dalam negeri untuk memenuhinya. Demikian dikatakan Direktur Pusat Teknologi Konversi dan Konservasi Energi pada Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) Arya Rezavidi, Jumat (19/10). “Beberapa investor dari luar negeri beberapa tahun belakangan telah menawarkan proposal pendirian pabrik sel surya atas pertimbangan pasar domestik yang makin mencukupi. Salah satunya, perusahaan Isofoton dari Spanyol,” kata Arya.

Belanja di luar negeri

Dia mengakui, sejauh ini pemerintah memang belum melirik peluang menggaet investor asing untuk mendirikan pabrik sel surya di Indonesia. Bahkan, pemerintah cenderung makin meningkatkan pembelanjaan sel surya dari luar negeri. Alokasi dana APBN sebesar Rp 300 miliar pada tahun 2007, menurut Arya, sudah dibelanjakan 50.000 unit sel surya. Masing- masing modul sel surya itu memiliki kapasitas memproduksi listrik 50 watt.

Sel surya tersebut sudah disebarkan ke berbagai pelosok daerah yang sulit terjangkau distribusi listrik dari PLN. Arya mengatakan, kecenderungan pemenuhan kebutuhan sektor energi yang konsumtif saat ini akan menimbulkan kesulitan pada tahun-tahun mendatang. Ia mengatakan, pemerintah sebaiknya mengalihkan pandangan pemenuhan kebutuhan sektor energi dari konsumtif menjadi produktif.

Kendala kebijakan

Secara terpisah, Kepala Balai Besar Teknologi Energi (B2TE) BPPT M Oktaufik mengatakan, kendala yang ada saat ini adalah tidak adanya kebijakan ekonomi yang mendorong perkembangan industrialisasi di sektor energi, terutama untuk energi terbarukan. Padahal, tambah dia, kapasitas lembaga riset energi di Indonesia sudah mampu mendukung tumbuhnya industrialisasi di sektor energi. “Dari riset dan pengembangan di B2TE, produksi energi terbarukan secara teknis sebenarnya sudah dapat dipenuhi dari dalam negeri,” kata Oktaufik.

Lebih lanjut, Arya menjelaskan, komponen industri yang paling penting untuk pabrik sel surya saat ini adalah silikon. Apalagi, di Indonesia keberadaan pasir silika sebagai bahan dasar pembuatan silikon tergolong melimpah. “Kebijakan konsumtif terhadap sel surya saat ini karena adanya anggapan bahwa dari tahun ke tahun harga komponen itu akan semakin murah sehingga dianggap tidak perlu memproduksinya sendiri,” kata Arya. (NAW)

10 Comments

Filed under Kliping Sel Surya

10 responses to “Sel Surya Perlu Pasar

  1. frans

    Yup… bener tu!
    Makanya buruan pemerintah/swasta bahu-membahu membangun industri Solar cell ini. apalagi cadangan minyak indonesia yg menipis….(pake impor dr luar pula)

    Stop global warming !!!!!

  2. Rachmat Adhi Wibowo

    Trims Mas Frans atas komentar dan kunjungannya….(^_^)

    Saya yakin nanti akan sadar juga pemerintah kita.
    masalahnya ketika sadar, masih dalam batas wajar ‘telat’ atau bagaimana….!?

    Ya, mudah2an pemerintah terbuka visinya ttg renewable energy, peneliti semakin giat bekerja menawarkan aneka solusi energi, dan investor/perusahaan besar jg melirik renewable energi sebagai salah satu diversifikasi bisnis di masa depan… investasi di bidang energi itu ibarat high risk high return….sama dengan invest di bidang perminyakan khan….

  3. semoga ke depan segera terwujud…🙂

  4. Mas Adhi..

    Kalau dihitung hitung, 50.000 x 50 watt = 2,5 MW..Jika kita asumsikan 1 panel = 1 m2, maka dibutuhkan luas area minimal 5 hectare. Trus bagaimana dengan biaya maintenance nya ya?

    Kapasistas pembangkit tersebut = 1/400 kali pembangkit 1 unit PLTN, hehehe…

    CH
    http://nuklir.wordpress.com/ —>> ikut2an mas Adhi😀

  5. Rachmat Adhi Wibowo

    Salam Oom Irul..

    Persepsi ente mengenai sebuah pembangkit tidak boleh disamaratakan seperti itu… Setiap bentuk energi dan pembangkitnya memiliki karakteristik khas yang menjadi keunggulan maupun sekaligus kelemahan .

    2.5 MW sel surya itu tidak melulu dijadikan sebuah pembangkit layaknya PLT. Istilahnya solar farm. 5 Ha untuk solar farm dengan kapasitas 2.5 MW bisa saja dibuat jika ada lahan yg kosong, menganggur dsb.

    Namun solar farm itu hanya sebagian keciiil dari aspek karakteristik sel surya,

    Misal, 50 Watt sel surya itu seukuran 1 m2.
    Maka, 2.5 MW bisa disebar di atap-atap rumah dengan ukuran rata-rata atap rumah sekitar 50 m2. Artinya, jika total luas atap rumah kita sebesar 10 x 5 meter, maka akan mampu menampung sel surya dengan kapasitas daya 50 m2 x 50 Watt = 2500 Watt per rumah atau 2.5 kW per rumah. Ini malah dua kali rata rata kebutuhan listrik PLN rumah-rumah orang tajir di Pondok Indah Jakarta khan…

    Maka dengan jalan ini, 2.5 MW / 2.5 kW = 1000. Artinya, 2.5 MW sel surya terpasang di 1000 rumah dengan kapasitas masing masng 2.5 kW.

    Jika atap rumah bervariasi atau daya sel surya dimainkan di rentang 900 – 1200 Watt daya yang dibutuhkan per rumah, maka bisa lebih dari 2000 rumah bisa diterangi dengan sel surya ini.

    Maintenancenya pun mudah krn tiap rumah bisa mengecek sel suryanya masing masing. Dan sel surya pun ga perlu ambil lahan pertanian rakyat 5 Ha untuk memuat penerangan seperti PLTN yang bisa menyerobot makam orang khan…!? Hehe

    Selamat atas Blognya ( http://nuklir.wordpress.com )
    Saya doakan semoga terus diberikan-Nya energi untuk konsistensi mengelaola blog yg berguna tsb..

  6. Tepu

    mas Ahi salam kenal,
    Saya sudah lama inging merealisasikan kapasitas 900 W itu. Tapi mengingat biaya yg begitu besar dan supplier yang sel surya yang tertbatas saya jadi berfikir lagi untuk melangkah.
    Mungkin mas Adhi ada solusi untuk baiya ini?
    salam

  7. Rachmat Adhi Wibowo

    Salam Mas Tepu.

    Solusinya ada pada industri dan pemerintah. Tulisan terbaru saya sedikit mengupas soal insentif untuk menekan harga sel surya. Namun semuanya berpulang kepada pemerintah dan saya tidak melihat solusi lain selain itu jika ingin mandiri dalam pembiayaan sel surya. Tulisan tsb akan saya sambung karena membutuhkan beberapa referensi yg perlu dibaca….

    Mudah2an keinginan Mas Tepu tsb dapat terealisasi dalam waktu dekat.

  8. dari aspek bisnisnya saya lihat indonesia pasar besar dansaya setuju klo ada pabrik solar cell di indonesia.. kita tahu klo silicon ini banyak banget di indonesia,, so, tunggu apa lagi..

    saya punya informasi ni, bagi rekan2 mahasisa sebenernya bisnis renewable energy ini peluang besar daripada cari kerja mending coba buka usaha ini,, sbelum investor luar masuk dan kita bangsa indonesia hanya bisa wait and see… sekarang saat nya tul gak..
    bagi temen2 yang tertarik untuk bincang2 dari aspek bisnisnya bisa hub saya…
    sebelumnya sorry ya mas adhi saya pake media mas.. hehehhe

    edo rinaldo
    villahadis@yahoo.com

  9. azharie wibowo

    salam kenal mas adhi, saya mahasiswa jurusan fisika. saya tertarik pada bidang solar cell.bisakah mas kirimkan saya prinsip kerja solar cell sederhana? satu lagi adakah perhitungan kuantum pada solar cell?

    • Adhi

      OK Mas Azharie..

      Nama belakangnya sama rupanya..
      Nanti saya kirim via email ya. Mgkn saya bisa nemui jurnal2 yg terkait.
      .Sbnrnya ada buku2nya. … sel surya dah cukup dipahami bari dari sisi teorinya…

      Trims kunjungannya.

      Salam
      ADHI

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s