Oleh-oleh dari International Conference on Electronic Materials (ICEM) 2008, Sydney, 31 Juli – 1 Agustus 2008

Puji syukur, alhamdulillah, dari tanggal 28 Juli hingga 1 Agustus 2008 lalu penulis berkesempatan hadir, berpartisipasi dan mempresentasikan hasil penelitian tebaru pada konferensi International Conference on Electronic Materials (ICEM) 2008. ICEM ini merupakan sebuah konferensi yang didedikasikan untuk merespon beberapa perkembangan mutakhir di bidang ilmu material, terutama material untuk aplikasi elektronika, yakni semikonduktor, sel bakar (fuel cell), superkonduktor, material magnet dsb. Diselenggarakan di kota yang cantik, Sydney, Australia, konferensi yang kali ini penulis ikuti juga menghadirkan beberapa sesi maupun simposium yang luar biasa, ditilik dari manfaat yang penulis rasakan. Ini juga merupakan kunjungan pertama penulis ke benua kanguru tersebut.

(Perlu dimaklumi bahwa keikutsertaan penulis dalam konferensi ini turut menghambat “proyek” penulisan artikel Melihat Cara Kerja Sel Surya dari Dekat Bagian Kedua yang direncanakan sebagai lanjutan dari Bagian Pertama yang agaknya terbengkalai meski manuscript tulisannya sudah selesai 75%.)

ICEM 2008 mengetengahkan beberapa simposium yang secara spesifik membagi konferensi menjadi beberapa area topik penelitian. Sejak dari pembuatan semikonduktor secara umum, sel bakar dan teknologi penyimpanan listrik (storage), sel surya (area di mana penulis turut ambil bagian), material untuk konversi energi, hingga sesi pendidikan/edukasi di bidang ilmu dan rekayasa material. ICEM 2008 kali ini dilaksanakan oleh Australian Materials Research Society (AUMRS), sebuah perhimpunan peneliti, industriawan maupun praktisi imu dan rekayasa material di Australia.

Misi besar konferensi kali ini agaknya membidik isu energi sebagaimana dapat ditemui pada tema simposium yang difokuskan pada beberapa aplikasi ilmu material untuk energi. Setdiaknya, ada 5 area penelitian yang didedikasikan untuk merespon isu energi ini. Sebagai sebuah gambaran, area penelitian sel bakar, sel surya, teknologi baterei, material untuk sensor serta konversi energi mendapat sambutan dan partisipasi yang cukup luas dari peserta konferensi. Hal ini dapat dimaklumi mengingat beberapa tahun belakangan, isu masa depan energi dan energi masa depan mendapatkan perhatian yang dominan terlebih semenjak kejadian kenaikan harga minyak bumi dunia.

Dari konferensi ini, kontribusi dunia ilmu dan rekayasa material terhadap teknologi pembangkit serta penyimpanan energi listrik dapat terlihat jauh lebih jelas.

Material untuk Energi dan Konversi Energi

Konsep material untuk bidang energi ( materials for energy and energy conversion ) ini ialah pemanfaatan semikonduktor, paduam logam inorganik, maupun matrial organik (semisal polimer) untuk mengkonversi, membangkitkan dan menyimpan energi. Energi yang pada umumnya berbentuk energi terbaharukan/ non fossil, dikonversi dari beberapa sumber; sinar matahari dengan bantuan sel surya dan hidrogen dengan bantuan sel bakar, menjadi energi listrik maupun mekanik (gerak).

Mengapa energi terbaharukan?

Secara umum, hal ini perlu dipahami akan adanya sebuah visi bentuk energi di masa depan yang selain mampu menopang peradaban dan aktifitas umat manusia, juga harus mampu menjaga kelestarian alam tanpa dapat ditawar-tawar lagi.

Semikonduktor dipergunakan karena ia merupakan jenis material yang mampu bertugas mengkonversi sumber energi tersebut secara langsung. Sebagai contoh, semikonduktor yang dipakai di dalam sel surya mampu mengubah sinar matahari menjadi listrik. Material inorganik biasa dipakai pada sel bakar untuk mereaksikan hidrogen dan oksigen untuk membangkitkan listrik. Paduan logam semisal Lithium dipadu dengan material lain mampu menjadi penyimpan energi seperti kita temui pada baterei Li-ion yang ringan serta tahan lama. Material organik semisal polimer juga menjadi salah satu material utama untuk aplikasi sel surya, sel bakar maupun baterei di masa depan.

Jelas, batasan bidang garapan material untuk energi ini ialah pada usaha pencarian, pembuatan, pengoptimalisasian serta penerapan atau komersialisasi material untuk keperluan di atas. Berbagai disiplin ilmu dapat disaksikan selama konferensi yang melibatkan disiplin ilmu-ilmu dasar fisika, kimia, matematika, ilmu-ilmu teknik semisal ilmu material, metalurgi, teknik kimia, elektro serta nanoteknologi. Kesemua disiplin ilmu ini memiliki misi besar bersama; menawarkan solusi dan langkah antisipasi dalam merespon isu energi dunia masa depan.

Sains dan Sainstologi

(Sir Harold Kroto ketika menjadi pembicara pada Plenary Lecture di hari pertama ICEM 2008 )

Yang sangat menarik dari ajang konferensi kali ini ialah turut diundangnya Sir Harold Kroto dari University of South Florida, peraih penghargaan Nobel untuk bidang kimia 1996 atas keberhasilannya menemukan sebuah senyawaan material yang ia beri nama dengan fullerene dengan rumus kimia C60. Yakni senyawaan yang tersusun atas 60 buah atom karbon dengan bentuk molekul layaknya sebuah bola sepak, jamak juga dikenal dengan istilah karbon-60. Senyawa fullerene ini memiliki sifat-sifat material yang menakjubkan; sifat-sifat atau karakteristiknya dapat diatur sedemikian rupa agar dapat bersifat konduktif, semikonduktif maupun sebagai insulator dengan potensi aplikasi yang sangat luas, mulai dari televisi plasma berukuran ekstraluas hingga bidang kedokteran dan biologi. Kali ini beliau didaulat sebagai pembicara plenary lecture, semacam keynote speaker.

Namun yang paling berkesan dari presentasi Sir Kroto ini bukan penjelasannya tentang perkembangan terbaru mengenai penelitian fullerene, namun paparannya yang menggugah generasi muda wa bil khusus para peneliti muda.

Pandangan beliau mengenai generasi muda (Amerika) saat ini ialah kekurangpedulian mereka pada sains, pada kerja keras dalam belajar dan meneliti. Dengan provokatif, Sir Kroto memaparkan sbb sebagaimana saya abadikan di dalam foto digital:

An understanding of Science and Technology is irrelevant for survival in our highly efficient technological environment and plain common sense is no longer necessary to survive

(Salah satu slide presentasi Sir Kroto yang mengkritisi pandangan generasi muda saat ini tentang sains)

Dengan jenaka, beliau menggambarkan, melalui slide presentasi powerpoint, bahwa citra umum seorang saintis di masyarakat (Amerika) ditonjolkan pada sosok Einstein tua yang berantakan (bukan Einstein muda yang klimis dan rapi). Sehingga bukan sains yang sekarang ini digemari dan menjadi idola, melainkan sainstologi (sciencetology) dengan Tom Cruise nan tampan sebagai patronnya, lengkap dengan foto besar sang jagoan Top Gun. Sungguh ironis.

Plenary lecture tersebut ditutup dengan aktifitas beliau mempopulerkan ilmu Kimia untuk anak-anak sekolah dasar-menengah di banyak negara seraya mendorong saintis muda dunia untuk terus berkarya dan giat bekerja.

Sebuah nasihat umum yang sering dipakai orang tua kita, hanya saja kali ini keluar dari mulut seorang peraih Nobel.

Workshop Penulisan dan Penerbitan Buku

Di samping itu, dimasukkannya simposium edukasi di bidang ilmu material memberi manfaat tersendiri bagi penulis yang memang ingin mengetahui lebih lanjut hal ikhwal proses pendidikan dan silabus ilmu material yang diajarkan di beberapa universitas terkemuka di Amerika Serikat dan Australia. Sebuah workshop yang membedah apa dan bagaimana teknik menulis serta menerbitkan sebuah buku ajar (textbook) di bidang material menggenapi simposium edukasi tersebut.

Workshop ini menghadirkan nama yang tidak asing bagi dunia ilmu material, baik dari kalangan dosen maupun mahasiswa; William D. Callister, profesor dari University of Utah, Amerika, penulis buku penghantar ilmu material paling luas dipakai dan dijadikan rujukan di seluruh dunia, Introduction to Materials Science and Engineering yang sekarang sudah masuk edisinya yang ke-8 dan telah diterjemahkan ke sekian belas bahasa. Penulis sangat beruntung karena pada kali ini dapat bertatap muka dengan beliau secara langsung serta mengikuti pemaparannya mengenai penulisan, silabus, serta penerbitan sebuah buku ajar berdasarkan pengalamannya.

(Prof. Callister ketika membagi pengalamannya ketika ia menyusun sebuah buku ajar)

Callister pada kesempatan tersebut berbagi pengalaman ketika menghadapi tantangan, kendala serta langkah-langkah yang ia ambil dalam menyusun bukunya yang laris itu.

Nanoteknologi, sebuah mata kuliah baru

Ada yang cukup menghentak dari simposium pendidikan ilmu material ini. Yakni adanya keseragaman kecenderungan dari kampus-kampus besar dunia untuk menggarap nanoteknologi sebagai sebuah mata ajar atau mata kuliah tersendiri dan independen di sebuah departemen material.

Memang selama ini, sebagaimana penulis alami sendiri, tidak ada satu pun mata kuliah yang secara spesifik memperkenalkan nanoteknologi kepada mahasiswa, terutama mahasiswa S1 di banyak kampus. Nanoteknologi sampai saat ini secara umum masih menjadi subordinat mata kuliah yang sudah umum. Dengan jalan penyisipan di sebuah mata kuliah tertentu, nantoteknologi ini diperkenalkan dan dipelajari. Tentu saja, kendalanya, tidak semua informasi, pengetahuan serta aplikasi nanoteknologi dapat terjaring dengan baik dan menyeluruh melalui pendekatan ini.

Lantas apa yang membuat nanoteknologi ini menjadi perlu untuk dijadikan sebuah mata kuliah tersendiri?

Per definisi, nanoteknologi terkait dengan teknologi dalam skala nanometer (sepermilyar meter). Baik cara pembuatan, pengolahan maupun produk dari nanoteknologi berada pada skala nanometer ini. Jelas, skala yang sedemikian kecil memiliki pendekatan yang berbeda dengan teknologi yang relatif lebih “kasat mata” semisal rancang bangun gedung, mesin kendaraan, pesawat terbang maupun jembatan. Skala yang sangat kecil tersebut juga membutuhkan alat-alat analisa yang mampu mendeteksi atau melihat produk bersakal nanometer dan alat alat manufaktur yang mampu mewujudkan produk nantoteknologi itu. Nanoteknologi saat ini menjadi pelopor kemajuan dan simbol modernitas seperti diwakili oleh produk komputer jinjing, kamera digital, telepon seluler, layar touch screen, atau produk obat-obatan.

Selain itu ditinjau secara keilmuan, banyak “tingkah laku” dari produk nanoteknologi ditemukan sangat berbeda secara signifikan dari produk teknologi konvensional. Penulis ambil contoh, sifat-sifat logam akan sangat berbeda bila logam tersebut memiliki ketebalan hanya 50 nanometer dibanding dengan logam yang sehari-hari kita pakai sebagai penopang kursi misalnya. Ada manfaat tambahan lain apabila sebuah material dibuat dengan ukuran sangat-sangat kecil sebagaimana dapat dicerna jika kita melihat sebuah prosesor komputer yang kemampuannya meningkat pesat justru ketika ukurannya semakin kecil.

Perbedaan tingkah laku material sebagai efek samping dari ukurannya membawa konsekuensi logis adanya perubahan cara pandang dan pola pendekatan terhadap nanoteknologi yang cukup signifikan. Sehingga, ahirnya penulis cukup memaklumi dan sepakat ketika kampus-kampus besar dunia mulai mengelola sebuah mata kuliah nanoteknologi yang independen dan secara khusus membahas nanoteknologi. Mungkin kampus-kampus di Indonesia perlu mengagas dan merespon perkembangan nanoteknlogi dengan cara yang identik disesuaikan dengan kebutuhan.

Presentasi Penelitian

Tidak lupa penulis sedikit ceritakan aktifitas utama penulis dalam kapasitasnya sebagai presenter dalam sesi poster di konferensi tersebut. Presentasi poster (poster presentation) ini melengkapi presentasi wicara (oral presentation) di setiap konferensi. Sejatinya, setiap peserta konferensi yang berniat mempresentasikan hasil penelitian mutakhirnya dapat memilih jenis presentasi yang ia kehendaki; presentasi wicara atau poster.

Presentasi wicara tidak ubahnya seperti pemakalah dalam sebuah seminar yang dengan bantuan powerpoint pembicara memaparkan hasil-hasil penelitiannya di depan audiens. Sedangkan presentasi poster, setiap pemakalah menggunakan sebuah kertas berukuran A0 yang ditempelkan di sebuah papan yang telah disediakan, kemudian ia menjelaskan penelitiannya kepada pengunjung yang tertarik dengan penelitian tersebut.

(Suasana konferensi saat sesi presentasi jenis poster. Terlihat banyak peserta konferensi yang melihat-lihat dan berdiskusi dengan pemakalah poster)

Penulis sendiri sudah pernah mempresentasikan penelitian di beberapa kali konferensi baik dalam bentuk presentasi wicara maupun poster, dalam skala lokal Korea maupun internasional. Kedua jenis presentasi ini sejatinya tidak memiliki tingkat keistimewaan lebih tinggi satu sama lain, hanya masing-masing memiliki keunggulan tersendiri dilihat dari sisi efektifitas interaksi pemakalah dan audiens.

Presentasi wicara cukup efektif untuk mengundang sebanyak mungkin audiens di dalam satu kesempatan. Pada umumnya, seorang pemakalah dibatasi hanya sekitar 15-20 menit waktu presentasi termasuk sesi tanya jawab. Hasil penelitian dapat dijelaskan dengan singkat dan padat. Presentasi jenis ini cukup baik untuk dijadikan ajang latihan presentasi serta “keberanian” pemakalah karena menggunakan bahasa penghantar Inggris untuk menjelaskan hal-hal teknis akademis. Namun menurut penulis, keterbatasan waktu presentasi seringkali membuat banyak sisi dari sebauh penelitian tidak dapat ditangkap secara utuh. Namun penulis sadari bahwa efek psikologis “keberanian” seorang pemakalah untuk mempresentasikan penelitiannya melalui jalan ini sedikit banyak menempatkan presentasi wicara lebih “bergengsi” dari presentasi poster.

Berbeda dengan presentasi wicara, waktu yang dianggarkan untuk presentasi poster lumayan panjang, yakni 2 jam. Hal ini disebabkan oleh format presentasi yang dapat diibaratkan dengan “penjaga stand pameran”, dengan hasil-hasil penelitian di dalam bentuk poster bertindak sebagai barang yang dipamerkan. Pemakalah dan audiens dapat leluasa sebebas mungkin memanfaatkan waktu tersebut untuk menjelaskan penelitian, bertukar gagasan dan informasi, membuat relasi, atau sekedar ngobrol ringan. Selain itu, presentasi poster mengikis hambatan bahasa antara pemakalah dengan audiens karena interaksi mereka tidak terbatasi oleh waktu maupun perasaan sungkan akibat kelemahan berbahasa Inggris, misalnya. Presentasi ini sangat pas sebenarnya untuk membangun jaringan relasi dengan sesama peneliti karena suasana santai yang ditimbulkan dari interaksi langsung ini.

Mungkin kelemahan dari presentasi poster hanyalah faktor kelelahan yang dialami oleh pemakalah. 2 jam ialah waktu yang panjang apabila dijalani dengan berdiri disamping poster sekaligus melayani berbagai pertanyaan dan diskusi yang dilontarkan oleh audiens yang tertarik dengan penelitian yang bersangkutan. Untungnya, panitia ICEM 2008 menyuguhkan makanan dan minuman ringan selama sesi poster berlangsung sehingga sedikit banyak mengurangi kelelahan yang dialami oleh pemakalah.

(Penulis di antara poster-poster yang dipresentasikan. Kali ini penulis menyajikan dua poster hasil penelitian sekaligus mengenai salah satu material untuk aplikasi sel surya.)

Kali ini, penulis membawakan hasil-hasil penelitian terbaru mengenai material alternatif untuk sel surya jenis lapis tipis CuInSe2 . Penulis masih berfokus pada usaha penggantian material Indium (In) yang akhir-akhir ini harganya meningkat tajam dengan material yang jauh lebih murah, yakni seng (Zn) dan timah (Sn). Selain itu, penulis juga memiliki satu lagi penelitian yang dipresentasikan, yakni mengenai usaha pembuatan material CuInSe2 dengan metode yang lebih sederhana, lebih cepat dan diyakini lebih murah.

Pe-er besar masih terus menantang penulis untuk menerapkan material-material tersebut untuk dijadikan sebuah sel surya atau solar cell device yang komplit untuk melihat manfaat nyata dari material yang tengah penulis teliti.

(Sempat berjalan-jalan di antara keindahan pesona kota Sydney)

7 Comments

Filed under Blog

7 responses to “Oleh-oleh dari International Conference on Electronic Materials (ICEM) 2008, Sydney, 31 Juli – 1 Agustus 2008

  1. wah.., makin melesat. btw.., selamat atas Ph.D nya mas…
    jadi ingat pertanyaan jenengan, kalo pulang jenengan mo ngapain..? mungkin memang jenengan akan lebih baik tetep di sana..

  2. edo

    wahh.. mantap mas.. bener2 luar biasa pemaparannya… bener2 ilmuawan indonesia sejati nih mas.. ilmunya di bagi2..🙂 mantap mas terimakasih

  3. Semoga penelitiannya sukses dan PLTS dapat di aplikasikan di Indonesia dengan harga yang terjangkau. Sebab saat ini kami di bukit 12 belum menikmati aliran listrik PLN . Sebagian warga yang mampu menggunakan diesel untuk penerangan sehingga lebih dari 3000 liter bbm di gunakan tiap malamnya di 5 desa. Desa bukit suban, Pematang kabau , mentawak , mentawak baru dan bunga antoi. Kalo di kalikan 8000 perliter sudah 24juta di bakar untuk penerangan. Andai ada PLTS maka duit segitu dapat untuk menciptakan lapangan kerja baru

  4. marco

    i am really interested in renewable energy..im going to work @ seram, Maluku.. in small islands like that, which is common in indonesia as archipelago, electricity is not easy to be enjoyed. if the price of solar cell is still 8$/ watt i dont think we are affordable to use it until @ least 5 years in the future. situation like Bakul cilog wrote happens anywhere in small islands… >.< is there any true answers about using solar energy that reliable?

    Dear Marco…

    Your were right.
    What makes a solar cell price is high in Indonesia is due to lacks of financial supports from the government (subsidy, credits, or other financial assistance) unlike in other developed countries. The solar cell dissemination program still relies on a very limited government rural electrical aid program, not a true market bussiness.
    These factors make the price of solar cell can not be reach by Indonesian people who lives in remote areas (small islands, hills etc).
    I don’t know whether within 5-7 years, there will be solar cells in every remote areas in Indonesia or Maluku since to tell the truth, the government’s solar cell program still does not work, and I don’t know why…

    have a nice work in Maluku then….:-)

  5. Pingback: Mata Kuliah Baru : Energy Materials « ..: Sel Surya-Teknologi pemanfaatan energi terbaharukan :..

  6. aji

    Belajar kayak giti dimana ?

  7. yogi

    Ok Bagus sekali perkembangan nanoteknologi akan membantu permasalahan hidup kita dimasa depan, mudah mudahan teknologi ini akan membuat semua manusia mendapat manfaat yang sama rata untuk kesejah teraan seluruh umat di bumi, memperbaiki sumber material yg sudah terlanjur rusak.

    kita melihat dengan nano teknologi ini ke depan bisa saja pemikiran kita selama ini berubah 360 derajat, bayangkan saja kita akan makan makanan sebagai suplement tubuh 1 sendok makan sudah cukup untuk menyambung hidup 1 tahun,
    kalau sudah begitu akan mengurangi beban kita untuk bekerja selama satu tahun mencari uang hanya untuk sesuap nasi. kalau kita punya 25 sendok berrti 25 tahun kita terbebas dari mencari nafkah sesuap nasi itu.

    Katanya apapun bisa di rubah sekehendak kita, kayu dirubah menjadi roti, bahan arang dirubah jadi berlian, kalau seperti itu kita gak perlu lagi cari uang salah satu beban yg membuat kita pontang panting banting tulang hanya untuk uang.

    Dongeng aja kok, menghayal rame rame nikmat juga kali ya, bebaaaasssssssss

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s