Antara energi, emisi karbon dan perubahan iklim

Pada 11-22 November 2013 di Warsawa, Polandia tengah berlangsung konferensi PBB untuk perubahan iklim dunia atau UN World Climate Change Conference. Konferensi ini “kebetulan” diselenggarakan hanya beberapa saat setelah topan tropis Haiyan meluluhlantakkkan Filipina yang menewaskan sedikitnya 2000 orang. Disebut “kebetulan” karena topan tropis dengan skala destruktif besar memang tengah diperdebatkan sebagai akibat langsung dari pemansan global (global warming) yang berujung pada berubahnya iklim planet bumi. Topan Haiyan seperti memanfaatkan momentum konferensi yang kembali menyadarkan betapa urgennya pembahasan tentang perubahan iklim dan pemanasan global.

Semakin “hangat”

Tahun 2013 sendiri ialah tahun yang ramai dengan serentetan tanda-tanda perubahan iklim yang mungkin hanya dirasakan oleh para ilmuwan dan peneliti iklim. Dimulai dari kadar karbondioksida (CO2) di atmosfer yang sempat menyentuh level psikologis 400 ppm (parts per million, bagian per sejuta) pada 7 Mei lalu (baca :  National Geographic), kemudian dilanjutkan dengan peningkatan derajat keasaman laut serta peningkatan suhu samudera Pasifik yang terlalu ekstrim.

Dari perspektif sains, perubahan iklim akibat pemanasan global memang tengah benar-benar terjadi, fakta dan tanpa keraguan. Perdebatan (sains) ada pada apa yang menyebabkan semua ini terjadi; manusia (emisi CO2) ataukah memang gejala alamiah (aktifitas matahari dan cosmic radiation dari luar angkasa). Mayoritas ilmuwan iklim dan lingkungan dan pihak yang tergabung dalam Inter-Governmental Panel for Climate Change (IPCC) menunjuk manusia-lah yang mengakibatkan perubahan iklim ini. Dan memang benar-benar ada bukti ilmiah untuk memperkuat argumentasi mereka. Salah satu buku terbaik yangmemaparkan bukti ilmiah terjadinya pemansan global ialah Climate Change, Evidence, Impactts, and Choiches, National Research Council dan National Oceanic and Atmosphere Administration (NOAA) dan dapat diunduh gratis dari Amazon.

Fakta meningkatnya kadar CO2 hingga menyentuh angka 400 ppm itu diyakini sebagai akibat aktifitas manusia. Jika kita lihat Gambar 1, kadar CO2 di atmosfer relatif konstan sejak 800 ribu tahun lalu hingga sebelum revolusi industri pada tahun 1850-an, yakni sekisaran 280 ppm. Jadi ada peningkatan kira-kira 40% kadar CO2 sejak dimulainya revolusi industri hingga hari ini. Penggunaan bahan bakar fosil (di negara maju) dan penggundulan hutan dengan cara pembakaran (di negara berkembang) ditengarai meningkatkan kadar CO2 di atmosfer dalam kuantitas yang berlebihan. Jelas semua paham akan efek dari CO2; menahan panas, yang disebut dengan efek rumah kaca (greenhouse effect) dan CO2 bersama dengan beberapa gas kimiawi lain yag memiliki efek yang sama disebut dengan gas rumah kaca atau greenhouse gases (GHG). GHG dalam jumlah yang lebih banyak menyebabkan planet Bumi menjadi lebih panas. IPCC pada tahun 2007 mengeluarkan hasil evaluasi bahwa sejak revolusi industri, suhu atmosfer planet kita telah meningkat 0,8°C. Dan parahnya, jika tidak ada aksi preventif, akan terus meningkat antara 0,3 hingga 4,8 °C tergantung dari besaaran emisi GHG per tahunnya (baca: The Guardian).

Gambar 1a

Gambar 1b

Gambar 1d

Gambar 1.          Konsentrasi CO2 di atmosfer dalam kurun waktu 800.000 tahun terakhir hingga akhir abad ke-18 (paling atas) , pada kurun waktu 2000 tahun terakhir (temgah), (Sumber : Climate Change, Evidence, Impactts, and Choiches)  dan rekor kadar CO2 di atmosfer pada 7 Mei 2013 lalu yang menyentuh 400 ppm, tertbesar sejak 3 juta tahun belakangan (gambar paling bawah, Sumber : The Guardian). ______________________________________

Emisi CO2 ke atmosfer terserap sebagian oleh laut yang mengakibatkan air laut lebih asam dari sebelumnya (Science, DOI: 10.1126/science.1208277). Seperempat bagian dari CO2 yang lepas ke atmosfer terserap ke laut yang mendorong terjadinya reaksi pembentukan asam karbonat (Nature 425, 365 (2003) doi:10.1038/425365a). Keberadaan asam karbonat ini merendahkan nilai pH laut atau dalam kata lain; laut menjadi lebih asam dari sebelumnya. pH air laut saat ini terukur 8.05, turun dari masa pra-revolusi industri yang bernilai  8.16 (baca: New Scientist).. Efek bawaan dari keasaman air laut yakni mengubah beberapa perilaku hewan-hewan laut (Proceedings of the National Academy of Sciences (DOI: 10.1073/pnas.0809996106)). Yang tidak dapat beradaptasi dengan perubahan keasaman air laut akan tereliminasi. Bahkan cangkang siput pun larut di dalam kondisi air laut seperti ini (Nature Geoscience, DOI: 10.1038/ngeo1635). Di pihak lain, terumbu karang yang akan paling menderita dengan perubahan derajat keasaman air laut (Geophysical Research Letters, DOI: 10.1029/2008GL035072).

Akibat peningkatan suhu global, permukaan laut pun semakin panas, seperti laporan dari peneliti Rutgers University, New Jersey, AS terkini (Science, DOI: 10.1126/science.1240837). Melalui pengukuran temperatur di perairan Indonesia yang merupakan pertemuan dari arus laut Pasifik utara dan selatan, mereka mengambil kesuímpulan bahwa laut Pasifik semakin panas dan temperatur saat ini jauh melebihi temperatur air laut 10.000 tahun lalu. Teori fisika menjelaskan bahwa badai di atas laut terjadi akibat aliran udara panas dari atas permukaan laut ke atas dan udara dingin yang datang dari atmosfer ke bawah. Lantas, apakah ada hubungannya antara panasnya samudra Pasifik dengan topan Haiyan ? Ilmuwan iklim masih belum bersatu pendapat soal ini, namun satu yang agaknya sudah disepakati ialah adanya kecenderungan yang dapat dilihat dari data statistik bahwa naiknya suhu air laut tidak meningkatkan jumlah badai tropis per tahunnya, namun meningkatkan resiko terjadinya badai tropis yang lebih hebat (Proceedings of National Academy of Sciences doi: 10.1073/pnas.1209980110, 2013).

Air yang panas memiliki volume yang lebih besar dengan jumlah kuantitas yang sama. Efek pemanasan global yang memanaskan air laut sekian derajat juga diiringi dengan mengembangnya volume air laut. Ditambah dengan mencairnya lapisan es di kedua kutub serta lapisan permafrost (lapisan tanah beku yang tertutup es selama ribuan tahun) di belahan bumi utara, permukaan air laut terdeteksi naik sebesar 1 cm per decade (lihat Gambar 2 di bawah, garis ungu “near surface thermal expansion” atau pemuaian permukaan laut karena peningkatan temperatur). Lapisan permafrost sendiri menyimpan GHG lainnya yang punya efek pemansan global 20 kali lipat dari CO2; gas methana alias CH4 (Richard A. Muller, Energy for Future Presidents, 2012). Tetumbuhan dan bahan organik lain yang tertimbun oleh lapisan tanah permafrost selama ribuan tahun mengalami penguraian dan menghasilkan gas CH4. JIka permafrost ini mencair dan hilang dari Greenland, Kanada dan Siberia, tidak dapat dibayangkan resikonya terhadap percepatan kenaikan suhu secara global.

Gambar 2

Gambar 2.          Kontribusi beberapa faktor penyebab kenaikan permukaan air laut global. Near  surface thermal expansion (garis ungu) ialah pemuaian air laut yang terjadi hingga 700 meter di bawah permukaan. Sumber : Climate Change, Evidence, Impactts, and Choiches.

___________________________________

Meski demikian, ada satu laporan yang sedikit banyak melegakan komunitas pemerhati lingkungan dan perubahan iklim. Menurut laporan PBL Netherland Environmental Assessment Agency, Trends in Global CO2 Emissions 2013 Report (dapat diunduh di sini), ada kecenderungan bahwa emisi GHG CO2 melambat dari tahun 2011 dibandingkan dengan rerata emisi GHG CO2 satu dekade lalu. Laju emisi GHG berkurang hampir 50% dari 2.4%/tahun dari kurun waktu 2000-2011, menjadi “hanya” 1.1 %/tahun  mulai dari tahun 2012. Salah satu alasan melambatnya emisi GHG ialah adanya pemakaian energi yang jauh lebih efisien. Laporan mengindikasikan bahwa pemakaian lampu hemat energi (semacam lampu LED) serta pengunaan sumber-sumber energi terbaharukan belakangan ini dapat meredakan permintaan energi listrik yang secara langsung menekan jumlah bahan baku fosil yang dipergunakan. Sayangnya, laporan ini tidak mengikutsertakan perhitungan emisi GHG dari negara berkembang akbat penggundulan hutan dengan alasan ketidakpastian (uncertainty) data-data yang ada. Satu lagi, ini hanya pelambatan emisi CO2, bukan berhentinya emisi CO2. Jumlah akumulasi CO2 di atmosfer hasil aktifitas manusia tetap bertambah per tahunnya, sekitar 36 milyar Ton per tahun.

Siklus karbon yang terganggu

CO2 sejatinya hanya 0.04% saja di atmosfer. Namun kadar yang sedikit itu memainkan peran besar bagi keberlangsungan makhluk hidup di planet Bumi. Tidak hanya sebagai sumber makanan bagi tetumbuhan dalam proses fotosintesa, namun lebih dari itu, keberadaanya yang sedikit itu menghangatkan Bumi sehingga Bumi sangat nyaman ditempati. CO2 bagi Bumi ibarat selimut di malam hari yang dingin; menghangatkan tubuh karena selimut menahan panas yang dikeluarkan dari tubuh kita tidak keluar dari selimut.  Tanpa selimut CO2 ini, panas yang asalnya dibawa oleh sinar matahari akan kembali ke luar angkasa dan meinggalkan Bumi dalam kebekuan karena tidak ada lagi yang mampu menahan panas. Inilah yang membedakan Bumi dengan planet Mars. Planet Mars sangat dingin karena tidak ada selimut CO2 yang menahan panas tetap berada pada permukaannya. Beberapa pekan lalu, para ilmuwan NASA kembali meluncurkan misi ke Mars untuk meneliti kondisi atmosfer Mars serta mengkaji penyebab menghilangnya sebagian besar atmosfer di planet merah itu, dalam proyek yang disebut dengan MAVEN (baca : website NASA).

Sejarah ilmu iklim mencatat bahwa pada awal abad ke-19, ilmuwan mulai memikirkan pengaruh dari beberapa gas dalam mengatur dan mempengaruhi temperatur Bumi. Pada tahun 1824, fisikawan Prancis, Joseph Fourier ialah ilmuwan  pertama yang menduga bahwa atmosfer planet kita berfungsi sebagai insulator, yang kemudian disebut dengan greenhouse effect / efek rumah kaca. Baru kemudian pada era 1850-an, fisikawan John Tyndall berhasil mendemonstrasikan efek rumah kaca dengan menunjukkan uap air dan gas-gas atmosfer lain dapat menyerap radiasi panas yang dipancarkan Bumi. Ilmuwan Swedia Svante Arrhenius pada tahun 1896-lah yang menghitung adanya efek pemanasan dari kelebihan CO2 di atmosfer. Dari perhitungannya, Arrhenius memprediksi bahwa jika aktifitas manusia meningkatkan Kadar CO2 di atmosfer, maka akan menghasilkan kecenderungan peningkatan suhu Bumi.

Selama jutaan tahun, CO2 di atmosfer Bumi mengalami siklus yang akhirnya membuat Bumi memiliki suhu rata-rata 23°C. Hasil respirasi hewan (dan manusia) yang berupa CO2 itu terangkat ke atmosfer dan mengakibatkan efek rumah kaca yang menghangatkan bumi. Sebagian dari CO2 ini dihisap oleh tetumbuhan baik itu di dasar laut maupun di daratan via fotosintesa dengan bantuan sinar matahari. Fotosintesa menghasilkan O2 (oksigen) yang menjadi infrastruktur kehidupan hewan dan manusia. Dengan O2, hewan dan manusia berespirasi dan kembali mengeleluarkan CO2 yang akhirnya kembali lagi ke atmosfer, menjamin Bumi tetap hangat,  dan akhirnya kembali diserap tetumbuhan menghasilkan siklus yang disebut dengan siklus karbon (carbon cycle) seperti diagram berikut.

Gambar 3

Gambar 3.          Skematik siklus karbon. Perhatikan bahwa porses CO2 di atmosfer ialah proses yang  terjadi dalam waktu singkat. Sedangkan proses terserapnya CO2 ke dalam lapisan tanah yang memperkaya batu bara, minyak dan gas terjadi dalam waktu jutaan tahun. Sumber : http://www.dec.ny.gov/energy/76572.html _______________________________

Sebagian dari siklus karbon/CO2 di atmosfer juga dapat terserap ke dalam lautan dan tanah yang dalam jangka waktu yang lama berkontribusi pada pembentukan endapan fosil yang kita kenal saat ini sebagai batu bara dan minyak bumi serta gas alam. CO2 dari dalam tanah ini dapat keluar ke atmosfer secara langsung melalui letusan gunung berapi dan aktifitas vulkanik lain. Dari siklus ini, kadar CO2 di atmosfer nyaris konstan alias tidak berkurang dan bertambah. Suhu atmosfer juga tetap. Selama 800 ribu tahun, kadar CO2 di atmosfer kira-kira 250-280 ppm, seperti di Gambar 1 sebelumnya.

Proses yang kita pelajari di atas disebut dengan efek rumah kaca alamiah, atau natural green house effect. Hasilnya ialah pemanasan global alamiah, atau natural global warming. Natural global warming inilah yang menghangatkan Bumi dan menghindari Bumi dari kebekuan.

Nah, CO2 berlebih saat ini di atmosfer bukanlah CO2 hasil respirasi makhluk hidup yang berada di permukaan bumi semata. Sejak revolusi industri, kelebihan CO2 ini berasal dari bahan fosil, yang sebelumnya terkubur di perut planet kita, yang kita keluarkan secara massif dan dalam tempo singkat sebagai sumber energi. Kita menambah kadar CO2 di atmosfer dengan jalan memompa karbon dari perut bumi dan memaksanya masuk ke dalam siklus karbon di atmosfer yang sudah eksis.

Hingga pada tahun 1950-an, ilmuwan iklim beranggapan bahwa lautan dapat menyerap sebagian besar kelebihan gas CO2 hasil aktifitas manusia. Dimulailah serangkaian penelitian ilmiah mengenai hubungan kelebihan CO2 dengan kemampuan lautan menyerap CO2. Namun pada akhirnya, ilmuwan berhipotesa bahwa lautan tidak dapat menyerap seluruh CO2 yang dilepaskan ke atmosfer. Untuk menguji hipotesa ini, Dr. Charles David Keeling memulai usaha mengumpulkan sampel udara pada Mauna Loa Observatory di Hawaii untuk mendeteksi perubahan Kadar CO2 di atmosfer. Hari ini, pengukuran serupa sudah dilkaukan di seluruh dunia dan data hasil pengukuran selama 50 tahun lebih menunjukkan adanya peningkatan kadar CO2 di atmosfer seperti ditunjukkan pada Gambar 4.

Gambar 1c

Gambar 1d

Gambar 4. (Atas) Data pengukuran kadar CO2 di atmosfer yang menunjukkan peningkatan kadar CO2 sejak pertama kali diukur pada tahun 1957 (315 parts per million/bagian per sejuta, ppm) dan 2010 (389 ppm). Pola grafik yang naik turun setiap tahun mencerminkan aktifitas tetumbuhan musiman (tumbuhan mengambil CO2 selama musim semi dan panas di Bumi belahan utara). (Bawah) Data kadar CO2 di atmosfer pada 7 Mei 2013 yang menyentuh angka 400 ppm. Grafik data kadar CO2 ini disebut dengan Kurva Keeling (Keeling Curve) sebagai penghormatan terhadap Dr. Chales Darvd Keeling yang petama kali mempelopori pengukuran ini. Kita dapat melihat jumlah kadar CO2 di atmosfer secara real-time di sini.
______________________________________

Kurva Keeling menyimpulkan bahwa kecepatan dan besaran emisi CO2 ke atmosfer melalui pengunnaan bahan bakar fosil ini jelas tidak diimbangi dengan kecepatan penyerapan CO2 oleh lautan (dan tanah) seperti yang terjadi pada siklus karbon alamiah. Hasil akhirnya dapat diduga, kadar karbon yang ditambahkan ke dalam siklus karbon alamiah tidak mampu diproses lebih lanjut oleh tetumbuhan dan menumpuk di atmosfer. Dan hal ini diperparah dengan hilangnya tetumbuhan melalui penggundulan hutan sehingga tidak ada lagi komponen yang menyerap CO2. Jika negara maju sejak awal revolusi industri menambah jumlah CO2 via emisi dari bahan bakar fosil, maka saat ini negara berkembang seperti Indonesia turut berperan serta memperparah dengan membabat hutannya. Kita mempertebal selimut CO2 yang sebelumnya sudah cukup untuk menghangatkan planet Bumi. Semakin tebal selimut kita, maka bukan kenyamanan yang kita rasakan, namun justru kepanasan.

Inilah yang kita alami saat ini: pemanasan global non-alamiah akibat dari kita sendiri yang memompa terus-menerus CO2 ke atmosfer. Para ahli iklim dan lingkungan mengistilahkan ini sebagai anthroponegic global warming, alias pemanasan global akibat aktifitas (ulah?) manusia. Ujung-ujungnya dipakai pula istilah anthropogenic climate change untuk merujuk pada perubahan iklim akibat aktifitas manusia. Faktor manusia-lah yang menambah kadar CO2 nyaris menyentuh 400 ppm dan mengakibatkan Bumi lebih panas 0.8 °C sejak 1850-1870.

Konferensi Iklim Warsawa

Konferensi iklim di Warsawa, Polandia yang baru saja berakhir menghasilkan kesepakatan untuk mengurangi emisi CO2 per tahunnya agar pada akhir abad 21, kenaikan suhu planet Bumi tidak melebihi 2 °C –batas temperatur yang masih dapat ditolerir (baca di sini). Catatan, kenaikan 2 °C ini dihitung sejak masa pra-revolusi industri, lebih dari 100 tahun lalu. Jika ingin mengetahui berapa banyak CO2 maksimum agar kenaikan suhu Bumi tidak melewati ambang 2 °C ini, maka nilainya ialah kurang dari 1 trilyun ton kumulatif dihitung dari masa pra-revolusi industri (sifat alami dari CO2 yang stabil dalam jangka panjang di atmosfer ialah alasan mengapa nilai kumulatif yang dipergunakan; CO2 hasil emisi masa awal revolusi industri masih ada sampai sekarang ini). NIlai 1 trilyun ton ini disebut dengan carbon Budget, lihat Gambar 5. Planet Bumi tidak boleh memiliki kadar CO2 lebih besar nilai carbon budget ini jika masih ingin menjaga kenaikan temperature kurang dari 2 °C.

Gambar 4

Gambar 5. Hubungan Antara jumlah kumulatif CO2 di atmosfer dengan kenaikan tempeartur bumi, termasuk proyeksi prakiraan jumlah CO2 ke depan. Perhatikan jumlah 1 trilyun Ton CO2 akan menaikkan temperatur bumi lebih dari 2 °C, dan dapat dicapai pada akhir abad 21 (angka dan titik biru kecil pada garis hitam). Sumber : Climate Central. _________________________________

Sialnya, sejak revolusi industri, manusia (baca: negara-negara maju) sudah membuang lebih dari 530 milyar ton CO2 ke atmosfer, dan sisa “budget” CO2 yang masih “boleh” dibuang ialah sekitar 470 milyar ton lagi (IPCC meralat nilai ini menjadi 515 milyar Ton, lihat The Guardian, sehingga budget yang tersisa masih lebih banyak dari 470 milyar Ton). Hal ini diperparah jika kita memperhitungkan GHG lain yang juga membawa efek rumah kaca semisal CH4, NxO dan SOx.

Pada konferensi iklim di Warsawa ini, negara-negara maju (Amerika, Eropa dan Jepang) berusaha keras agar mereka tidak dipersalahkan sebagai kontributor utama emisi CO2. Menurut laporan The Guardian, delegasi negara-negara ini berusaha agar kesepakatan akhir tidak mencantumkan hal-hal yang memojokkan mereka sebagai biang keladi dari perubahan iklim serta pemanasan global. Mungkin entah faktor diplomasi, perasaan bersalah atau kemanusiaan, negara-negara penyumbang CO2 ini menyetujui adanya “bantuan” dana sekian milyar dolar AS untuk negara-negara berkembang untuk tetap menjaga negaranya tidak membuang emisi CO2 berlebihan.

Jauh hari sebelumnya, Al Gore sendiri secara jujur mengatakan bahwa penyebab pemanasan global ialah negara-negara seperti AS dan Eropa (Al Gore, Our Choice: A Plan to Solve the Climate Crisis, 2009). Sebelum revolusi industri, mereka membabat habis pula hutan-hutan di pertengahan daratan Eropa serta Inggris. Di daratan Amerika, mereka membabat habis hutan dari pantai timur hingga bagian tengah untuk pertanian. Sehingga – tambah Al Gore – negara maju tidak memiliki hak sama sekali untuk melarang aktifitas serupa yang dilakukan negara-negara berkembang dalam upayanya meningkatkan standar hidup seperti apa yang sekarang ini dinikmati negara maju. Toh, standar hidup yang tinggi di negara maju saat ini dibangun dari aktifitas mereka merusak lingkungan 200 tahunan lalu.

Emisi CO2 Indonesia

Ada setidaknya tiga laporan yang saya telaah untuk mengetahui seberapa emisi CO2 Indonesia. Pertama ialah laporan IEA dalam South East Asian Energy Outlook 2013, laporan PBL Netherland Environmental Assessment Agency, Trands in Global CO2 Emissions 2013 Report, dan terakhir ialah laporan KemenRISTEK RI, Buku Putih Energi 2005 – 2025. Semua sumber kredibel tersebut dapat di download secara cuma-cuma.

Emisi GHG (CO2 dan gas lain) Indonesia dapat dilihat pada Gambar 5 di bawah ini diambil dari Buku Putih Energi. Emisi gas buang hasil pembakaran berupa CO2 dari 183,1 juta Ton pada tahun 2002 menjadi 584,9 juta Ton pada tahun 2020 (3,2 kali lipat). Jika ditelaah lebih lanjut, data Buku Putih ini tidak berbeda jauh dari data IEA untuk tahun 2011 (lihat Gambar 6) yakni berkisar pada 430-440 juta Ton, atau menurut versi PBL yang sebesar 490 juta Ton pada tahun 2012. Sedangkan emisi CO2 Indonesia ditaksir sebesar 820-830 juta Ton pada tahun 2035 menurut IEA. Dan PBL menghitung pada tahun 2012 Indonesia menyumbang 1.4% emisi CO2 global. Namun ingat, emisi ini berasal dari emisi CO2 dari bahan bakar fosil. PBL tidak menyertakan emisi CO2 akibat penggundulan hutan.

Gambar 5a

Gambar 5b

Gambar 6. Emisi GHG Indonesia hingga 2020 (atas, dalam satuan ribu Ton, Sumber : Buku Putih Energi) dan 2035 dalam Mt (metric Ton) (bawah, Sumber: IEA). ________________________________

Darimana emisi CO2 ini berasal? Sumber-sumber laporan di atas menyebutkan bahwa baik minyak bumi, batu bara dan gas alam akan tetap menjadi tiga sumber enegi utama Indonesia, setidaknya hingga proyeksi tahun 2020 (Buku Putih) dan 2035 (IEA) (lihat Gambar 7). Masih dalam laporan IEA pula, terjadinya pergeseran sumber energi ini dikarenakan pemanfaatan batu bara sebagai bahan baku pembangkit listrik semakin dominan, menggantikan minyak bumi. Sedangkan gas alam lebih banyak dipergunakan di industri dan rumah tangga. Sektor mobilitas transportasi masih jelas digerakkan oleh minyak bumi atau BBM. Dan sektor inilah yang semakin memperkuat kebutuhan Indonesia akan impor minyak bumi.

Gambar 6a

Gambar 6b

Gambar 7. Sumber energi Indonesia (atas Buku Putih Energi), dan distribusi pemanfaatan sumber energi hingga 2035 (bawah, IEA). Perhatikan bahwa satuan Yang dipakai di dua grafik di atas berbeda satu sama lain. Namun grafik ini dapat menggambarkan porsi masing-masing sumbangan sumber energi di Indonesia. ____________________________

Dengan selesainya konferensi iklim di Warsawa, para delegasi yang mewakili negara masing-masing membawa setumpuk pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan dalam menyongsong konferensi iklim serupa di Paris, 2015 (baca The Guardian). Terutama dalam mengadopsi semangat konferensi untuk meredam laju emisi CO2.

Mengingat sumber CO2 terbesar berasal dari sumber energi fosil, maka pertanyaannya adalah apakah akan ada pergeseran porsi sumber energi primer Indonesia ke depannya, yakni memperbesar porsi gas alam (yang memiliki emisi CO2 lebih sedikit dari minyak bumi dan batu bara), ataukah mempromosikan sumber-sumber energi yang lebih bersih semisal energi terbaharukan dari geothermal / panas bumi, matahari atau angin?

__________________
Catatan : Tulisan ini juga dibuat untuk ditampilkan di blog penulis yang lain dengan judul “Masih soal perubahan iklim dan pemanasan global“.

1 Comment

Filed under Pendidikan Sel Surya, Sains dan Tekbologi Sel Surya

One response to “Antara energi, emisi karbon dan perubahan iklim

  1. Pingback: Masih soal perubahan iklim dan pemanasan global | ..:: Jurnalistik Sains ::..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s